Jogja Gallery

Visit Jogja Gallery
Jl. Pekapalan 7, Alun-Alun Utara
Yogyakarta - Indonesia
Telp. +62-274 419999, 412021, 7161188
Fax. +62 274 412023
Email: jogjagallery@yahoo.co.id

KOMPETISI ESAI

Dipublikasikan tanggal November 27, 2007 8:18 PM

Kompetisi esai ini digelar dalam rangkaian kegiatan pameran inter-religi dalam seni visual 'Shadows of Prambanan', 23 November - 16 Desember 2007 di Jogja Gallery, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara UNESCO Office, Jakarta, Departemen Budaya dan Pariwisata RI, PT Taman Wisata Candi dan Jogja Gallery.

Siapa yang tak kenal Prambanan? Sebuah situs peninggalan yang tak kalah megah dibanding Borobudur atau bangunan penting lain di dunia. Di tahun 1991, UNESCO memasukkan situs ini sebagai salah satu World Heritage (Pusaka Dunia). Candi ini merupakan bangunan suci agama Syiwa. Bisa dikatakan bahwa candi ini memiliki percampuran antara pengaruh agama Hindu-Buddha. Candi yang berasal dari pertengahan abad ke-9 yang terkenal dengan cerita Lara Jonggrang ini memang menyimpan kenangan bagi bangsa ini. Ribuan cerita dan bayangan di baliknya menimbulkan banyak inspirasi bagi siapa saja. Sampai saat ini pun candi yang disekitarnya dikelilingi masyarakat muslim di sana memang terus dipelihara. Oleh karena itu, oleh banyak kalangan sejarah ia dianggap sebagai sebuah simbol keharmonisan kehidupan. Ia disebut sebagai 'The Heart of Java'.

Cerita-cerita mengenai candi Prambanan yang menarik terasa hambar ketika gempa menerjangnya. Tepat pada 27 Mei 2006, candi ini mengalami kerusakan parah, menjadi korban gempa berkekuatan 5,9 skala Richter. Kondisi sebelumnya yang mendekati sempurna (dipugar pertama 1918 dan diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 20 Desember 1953), kenyataannya seperti sebuah sembilu yang terus mengerogoti keabadiannya. Prambanan meradang menunggu waktu: dipugar kembali atau dibiarkan 'sakit'? Bayang-bayang tentang Prambanan sedang menuju keterpurukan tergambar jelas, redup namun juga mengundang. Tak sempatkah kita melongok realitas yang terjadi di sana.

Setelah sukses menggelar 'The Thousand Mysteries of Borobudur' (20 April-2 Mei 2007), UNESCO bersama Jogja Gallery dan institusi mitra lain bermaksud untuk menampilkan pusaka Prambanan dalam sebuah pameran seni visual dan agenda lainnya. Tujuan umum dalam pameran ini adalah untuk mengetahui sejarah situs, sekaligus mengenal lebih jauh perihal hubungan antar-agama (inter-religi) di balik peninggalan tersebut sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat sampai saat ini. Mampukah kepercayaan dan keimanan individu mempertautkan diri dalam jaringan komunitas yang besar dan kemudian turut menjaga budaya & keharmonisan bersama?

Sudah barang tentu, sebagai sebuah World Heritage, Prambanan menyampaikan pesan-pesan universal pada para pengunjung untuk mengetahui sejauh mana nilai di balik budaya dan religi bertaut dan relevan pada masing-masing individu. Mengikuti langkah-langkah para pembangun Prambanan di masa lalu, nilai-nilai tersebut sampai saat ini masih menarik dikaji dan diekspresikan melalui seni-budaya senyampang untuk tetap peduli pada kepercayaan/agama lain, demi terciptanya keharmonisan hidup.

Melalui sebuah pameran besar dan berhubungan dengan program pendukungnya, UNESCO Office, Jakarta dan diorganisasi oleh Jogja Gallery bersama mitra lainnya, ingin menampilkan nilai-nilai penting yang tersembunyi di balik pusaka candi Prambanan dan ditransformasikan pada generasi-generasi mendatang.


Tujuan

  1. Untuk mempresentasikan kepada khayalak yang lebih luas [turis, penduduk lokal, pelajar dsb] nilai-nilai Prambanan sebagai situs pusaka dunia dan pekerjaan rehabilitasi usai gempa yang menimpanya 27 Mei 2006 lalu melalui kegiatan tersebut di atas;
  2. Meningkatkan riset artistik mengenai pentingnya Prambanan melalui seminar mau pun kunjungan/workshop untuk pelajar;
  3. Untuk memberikan rangsangan pengetahuan kepada pelajar mengenai pentingnya situs pusaka dunia melalui kompetisi penulisan esai Candi Prambanan.

Persyaratan

  1. Peserta terbuka untuk pelajar SMP dan atau SMU seluruh Indonesia, dengan menyertakan fotokopi kartu siswa yang masih berlaku (atau surat keterangan dari sekolah).
  2. Dapat dituliskan secara perorangan atau berkelompok.
  3. Panjang esai maksimal dua (2) halaman kertas A4, sebanyak 1500 - 2500 kata, spasi tunggal, dan menggunakan tipe huruf Arial 11.
  4. Esai bisa dibuat dalam bahasa Indonesia.
  5. Judul esai bebas, mengacu pada tema tersebut di atas.
  6. Esai tidak mengandung isu-isu sensitif berbau pornografi dan SARA.
  7. Esai harus merupakan karya asli; esai didasarkan pada ide yang orisinal, bukan saduran atau terjemahan dari karya orang lain dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya mau pun tidak sedang diikutkan dalam lomba lain.
  8. Satu partisipan hanya boleh mengirim satu esai.
  9. Dikirimkan rangkap 4, 1 tulisan asli dan 3 tulisan fotokopi.
  10. Akan dipilih 5 orang pemenang dengan hadiah masing-masing Rp 200.000,- dan sertifikat.
  11. Esai yang kami terima dari kompetisi ini akan menjadi hak milik kami dan bisa kami gunakan untuk kepentingan publikasi dan pemasaran tanpa harus ada royalti yang harus dibayar kepada pihak penulis esai tersebut.
  12. Esai akan dinilai berdasarkan kreatifitas, keaslian, dan kejelasan pesan yang disampaikan untuk pembaca, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  13. Keputusan juri sifatnya mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
  14. Kompetisi esai ini tidak dipungut biaya apa pun.

WAKTU PELAKSANAAN

  • Kompetisi esai dilaksanakan mulai Oktober - 30 November 2007.
  • Pengiriman tulisan diterima paling lambat tanggal 30 November 2007, jam 21.00 WIB [bukan cap pos]. Dialamatkan ke:
    Jogja Gallery [JG] Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000 Indonesia

Mohon untuk mencantumkan 'Kompetisi Esai' di amplop surat, tidak menerima pengiriman melalui surat elektronik/ email.

Pengumuman pemenang tanggal 16 Desember 2007, akan diumumkan baik secara personal maupun lewat situs kami.

DEWAN JURI

  • Elanto Wijoyono [Mhs. tingkat akhir jurusan Arkeologi UGM, co-kurator pameran 'Shadows of Prambanan']
  • Farah Wardani [Penulis lepas, Direktur IVAA/Indonesian Visual Arts Archive, Yogyakarta]
  • Nunuk Ambarwati [Program Manager Jogja Gallery]