Jogja Gallery

Visit Jogja Gallery
Jl. Pekapalan 7, Alun-Alun Utara
Yogyakarta - Indonesia
Telp. +62-274 419999, 412021, 7161188
Fax. +62 274 412023
Email: jogjagallery@yahoo.co.id

YAASIN The Untranslatable

  • Tanggal: 16 Sep 2008 - 12 Oct 2008
  • Kurator: Farah Wardani

Assalamualaikum Wr.Wb
Surah Ya-sin ( ), yang seringkali disebut sebagai ‘jantung Al-Qur’an’ bukanlah suatu yang asing bagi masyarakat Muslim di Indonesia, dan telah menjadi bagian juga dari tradisi yang telah berjalan sebelumnya bagi kultur-kultur tertentu, terutama di Jawa. Surat ini acapkali dibaca pada ritual tahlil melepas kepergian jenazah, atau sebagai doa memohon kesembuhan bagi yang sedang sakit keras, dan dibacakan pada orang yang sedang sekarat.
Di kehidupan masyarakat Muslim di sini secara umum, Surah Ya-Sin seringkali banyak difungsikan menjadi semacam ‘mantra’ yang mengandung kekuatan Ilahi. Sejatinya, Ya-sin sendiri bila dilihat dari tafsir-tafsir yang berlaku adalah sebuah teks yang sangat puitis yang bisa dilihat baik dari segi sastra, filsafat dan juga ilmiah. Pesan-pesan yang terkandung di dalam Surah Ya-sin menyimpan banyak makna, kajian dan tanda-tanda tentang esensi hidup dan mati, serta kekuasaan Allah atas jagad raya. Mulai dari celaan dan ancaman Allah terhadap orang-orang yang acuh terhadap peringatan-Nya, penyesalan di hari akhir, balasan yang disediakan bagi manusia di akhirat, dan masih banyak lagi pesan-pesan penting lainnya.
Kata ‘Ya-sin’ ini sendiri tak ada terjemahannya. Di setiap tafsir akan disebutkan: ‘Hanya Allah yang mengetahui maknanya’ dalam kolom translasi. Beberapa referensi mengulas bahwa kemungkinan ‘Ya-sin’ adalah sapaan hangat Allah kepada Nabi Muhammad SAW, namun hal ini hanya berlaku sebagai dugaan semata. Kitab suci Al-Qur’an memang memiliki beberapa ayat seperti ini, selain Ya-sin ada juga ‘Alif Lam Miim’ yang juga diambil dari aksara Qur’an sejati, tidak bisa diterjemahkan secara linguistik, menandakan bahwa setiap aksara Qur’an pun menyimpan makna-makna tertentu, dan itu juga memberikan berbagai kemungkinan artistik dalam seni kaligrafi Islam.
Keinginan untuk melakukan sebuah respon kreatif terhadap Surah Ya-sin ini muncul setelah saya melepas 40 hari kepergian almarhumah Ibunda saya tercinta, Hj. Nani Purwani binti Soleiman Nitidipura, awal tahun ini. Dimulai sejak Beliau sakit keras selama kurang lebih dua bulan hingga berpulang ke rakhmatullah akhir Januari lalu, surah Ya-sin menjadi pegangan kekuatan bagi saya dan keluarga, dan kami baca terus menerus untuk menemani Ibunda ketika sakit dan mengantarnya ketika Beliau pergi.
Pengalaman seperti itu pastinya juga pernah dialami oleh banyak orang, dan saya pun tergugah untuk mengetahui apakah Ya-sin juga menjadi bagian dari pengalaman spiritual orang lain, seperti para perupa misalnya. Saya tergelitik dengan mencoba untuk membaca Ya-sin dengan juga memperhatikan tafsirnya, dan juga sangat ‘penasaran’ dengan kata ‘Ya-sin’ yang ‘hanya Allah yang mengerti maknanya’.
Ajaran Islam memang banyak menawarkan abstraksi yang digabungkan dengan fakta dan logika keilmuan, meski pada prakteknya disini sayangnya banyak terjadi penyederhanaan berlebihan, penyempitan makna atau tafsir literal yang kemudian menjadi batasan orang untuk mengkaji kedalamannya.
Seni rupa Islam seperti kaligrafi dan ornamentasi juga banyak menyiratkan konsepsi abstraksi , non-figuratif atau non-verbal dalam prinsip-prinsipnya, yang sedikit banyak bisa direlasikan ke konsepsi abstract modernism di seni rupa Barat, mengindikasikan konsepsi Islam yang tinggi terhadap hal-hal tekstual dan visual. Hal ini belum begitu banyak diolah dalam praktek seni rupa dari dulu hingga sekarang, dan bahkan mungkin banyak dianggap sesuatu yang ‘usang’ atau membuat jengah karena asosiasi-asosiasi tertentu dalam memandang Islam sekarang ini.
Ramadhan tahun lalu, Jogja Gallery menyuguhkan pameran ‘Kalam dan Peradaban’ yang mengupas seni kaligrafi dari berbagai sisi. Sebagai semacam kelanjutan dari pameran tersebut, saya mengajak sejumlah perupa Muslim untuk turut bersama-sama mencoba ‘menerjemahkan’ Ya-sin dalam bahasa rupa, baik secara kaligrafis mau pun abstraksi, dengan pengembangan-pengembangan eksploratif namun tetap beranjak dari prinsip-prinsip seni rupa Islam yang telah terkaji selama ini,
Pameran ini rencananya juga diselenggarakan pada bulan Ramadhan, September 2008. Saya berniat mendedikasikan pameran ini untuk Almarhumah Ibunda saya. Semoga niat ini didukung para pihak yang saya undang sebagai sebuah doa bersama untuk menyambut Hari Raya nanti.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Surah Ya-sin ( ), yang seringkali disebut sebagai ‘jantung Al-Qur’an’ bukanlah suatu yang asing bagi masyarakat Muslim di Indonesia, dan telah menjadi bagian juga dari tradisi yang telah berjalan sebelumnya bagi kultur-kultur tertentu, terutama di Jawa. Surat ini acapkali dibaca pada ritual tahlil melepas kepergian jenazah, atau sebagai doa memohon kesembuhan bagi yang sedang sakit keras, dan dibacakan pada orang yang sedang sekarat.

Agenda Jogja Gallery