Jogja Gallery

Visit Jogja Gallery
Jl. Pekapalan 7, Alun-Alun Utara
Yogyakarta - Indonesia
Telp. +62-274 419999, 412021, 7161188
Fax. +62 274 412023
Email: jogjagallery@yahoo.co.id

Teksture Dalam Lukisan

  • Tanggal: 01 Jul 2008 - 20 Jul 2008
  • Kurator: Mikke Susanto

Mengerti Tekstur
Pengantar Kuratorial oleh Mikke Susanto

The development of art in general proceeded along distintly separate chanels in the various coutries, but always was governed by the culture and the type of civilization and the available supply of raw materials choice or seletion of which was strongly influenced by climate conditions and the uses to which the works of art were put.

Ralph Mayer, The Artist’s Handbook of Materials and Techiques, 1991

Dalam pandangan umum, bicara tekstur adalah bicara praktik dalam berkarya seni. Dalam lukisan, tekstur merupakan salah satu elemen yang dominan, selain garis dan warna. Tekstur atau nilai raba, secara serampangan dalam bidang umum diartikan permukaan objek, seperti kulit, rambut dan bisa merasakan kasar-halusnya, teratur-tidaknya suatu objek atau benda. Sedangkan tekstur dalam lukisan dimunculkan dengan memanfaatkan kanvas, cat atau bahan-bahan lain seperti cat, pasir, semen, kerikil, zinc white, dan lain-lain. Jika Anda menikmati lukisan, salah satu yang mesti menjadi perhatian adalah nilai rabanya. Saya katakan demikian karena pada dasarnya setiap lukisan memiliki tekstur atau nilai raba.
Namun secara khusus dalam pameran ini, pembahasan mengenai tekstur lebih ditonjolkan untuk membantu penonton menganalisis berbagai perbedaan sekaligus hal-hal lain yang mungkin bersifat non-teknis yang terkait pada permukaan lukisan. Tekstur dalam bahasan kali ini lebih dikhususkan pada aspek yang memunculkan perasaan tertentu, karena dimunculkan secara sengaja atau tidak untuk memanipulasi visual guna berbagai keperluan, baik simbolik maupun artistik. Tekstur dalam lukisan bisa dilacak karena pola hias (pattern) yang muncul, tingkat kehalus-kasaran permukaan, sampai pada persoalan penipuan visual yang ditimbulkan oleh media dan teknik tertentu.
Dalam perkembangan terkini, semenjak lukisan diandaikan telah ‘tamat’ oleh sejumlah kritikus Postmodern, wacana tekstur semakin tak menentu. Tradisi melukis dianggap tak terlalu penting dalam wacana seni rupa. Kode-kode penciptaan kreatif hanya menjadi sarana, bukan tujuan wacana. Aspek-aspek yang diperhatikan cenderung pada bagaimana hasil lukisan dimaknai secara filosofis dan mendalam, terutama pada simbol-simbol yang dipakai, bukan pada bagaimana cara membuat lukisan. Sampai-sampai terdapat tren bahwa melukis adalah memaknai kehidupan, bukan terletak pada bagaimana membuat garis, tekstur dan warna. Tinjauan pada elemen formal (seperti garis, tekstur, warna, bahan, alat) dianggap ketinggalan dan tak menarik lagi. Benarkah demikian?
Pameran ini mencoba meneguhkan kembali semangat untuk menggali kemampuan teknik, keberadaan media serta berbagai unsur formal berupa tekstur dalam lukisan. Bicara tekstur tentu saja kini tak lagi bicara perkara teknik semata. Tekstur dalam sejumlah besar lukisan yang dipamerkan inipun ternyata menyimpan wacana yang kurang lebih ingin mengingatkan sejumlah pemikiran yang cenderung menihilkan perkara dan unsur formal dalam seni lukis. Ungkapan Ralph Mayer di atas menginspirasi saya mencari sejumlah temuan menarik dalam karya-karya bertekstur dalam pameran ini.

Sub-kurasi 1: “Touching the Nature”
Daya tarik pameran ini adalah dihadirkannya karya-karya yang secara visual berbasis tekstur nyata di atas kanvas. Tekstur nyata di sini dapat dikaitkan dengan 2 hal. Pertama, karya-karya yang secara teknik dibuat dengan medium yang tidak tunggal alias campuran, misalnya antara akrilik dan kolase kertas di atas kanvas. Karya-karya ini menyajikan tingkat kesulitan yang lumayan rumit, karena dalam seni rupa, penggabungan media yang berlainan bahan dapat berpengaruh pada kekuatan dan keabadian karya itu sendiri. Oleh sebab itu, karya yang bermedium ganda atau lebih memerlukan strategi dan kemampuan mengenal bahan yang dipakai lebih jauh. Inilah masalahnya.
Kedua, karya-karya yang berbasis medium tunggal, yaitu cat minyak saja atau akrilik saja-di atas kanvas. Dalam hal ini karya yang dimaksud adalah karya berbasis medium tunggal, namun dilakukan dengan cara menorehkan bahan lebih dari sebatas tinggi rata-rata cat yang digoreskan di kanvas, alias secara teknis dibuat dengan diplotot, dipalet atau digoreskan secara tebal. Karya ini dihadirkan untuk mengetahui berbagai persoalan tentang dimensi “ketiga” dalam lukisan cat minyak atau akrilik.
Dari dua pendekatan teknik ini, penonton diharapkan dapat menimba perasaan ketika menghadapi karya seni semacam ini. Ada kemungkinan ketika penonton menghadapinya muncul perasaan yang berbeda-beda. Daya tangkap yang berbeda inilah yang sangat mungkin menyebabkan pertaruhan wacana, mulai dari aspek teknik, perkara dan upaya kebersihan karya, sampai pada masalah psikologis yang berbeda-beda.
Karya-karya seperti yang ditampilkan oleh Nyoman Gunarsa, Aming Prayitno, Hening Swasono, Suwaji, Nyoman Erawan, Edi Sunaryo, M. Agus Burhan, Syaiful Adnan, Stevan Buana, Nasrul, Wayan Danu, Sasya Tranggono, Kartika Affandi, Antonius Kho, Nasirun, Ketut Sugantika, Hadi Susanto, Narsen Afatara, Made Dodit Artawan, Wayan Legianta membuka mata bahwa persoalan tekstur bukan lagi persoalan teknik, tetapi tekstur telah menjadi sebuah kewajiban untuk tampil karena membawa misi non-artitik sekaligus. Keindahan tekstur tidak lagi hanya dilihat karena kasar-halusnya semata.
Munculnya dimensi “ketiga” dalam karya-karya mereka sangat terkait dengan misi ‘politik’ masing-masing karya. Hening ingin memperlihatkan bagaimana cracking menjadi bagian dari persoalan kritik sosial. Nyoman Erawan dengan sangat tegas memberi dimensi lokal (indigenous) pada karya-karyanya dengan menampilkan sisi nilai raba. Agus Burhan menguak kembali kebudayaan lama berupa relief dalam perspektif medium seni modern. Dengan berkutat pada aspek semacam ini, karya-karya mereka berperan untuk memberi aksen tertentu, selain bicara urusan formal semata. Dari karya-karya mereka kita seperti meraba alam yang sesungguhnya amat kaya dengan keindahan.

Sub-Kurasi 2: “Territorial Texture”
Sekumpulan perupa membiarkan kanvasnya dipenuhi tekstur tak nyata, bergaris tipis sebagai subjek teknis. Mereka dengan sangat serius meneliti berbagai hal yang terkait antara medium (bahan, alat dan teknik) yang dipakai dengan ide yang diangkat. Banyak hal yang bisa ditarik dalam karya-karya semacam ini.
Kecenderungan pertama yang menarik dari munculnya karya bertekstur semu adalah munculnya keterkaitan antara ruang, tekstur dan objek karya. Sekumpulan perupa ini menandai satu persoalan penting berupa “serbuan” garis pada ruang yang semula kosong. “Tekstur” yang dihadirkan dengan berbasis garis kemudian dipakai untuk membentuk ruang (perspektif) dan objek (figur), alias tidak kosong. Serbuan tekstur inilah yang nantinya berpengaruh pada mata penonton sekaligus, yang sudah pasti, berdampak pada narasi, ide dan tema karya. Ruang terasa didominasi oleh tekstur semu. Ruang serasa bergerak karena kemampuan garis yang berulang-ulang.
Ada yang mengatakan bahwa kadang serbuan tekstur ini menandai munculnya gejala “horror vacui” alias “ketakutan” akan ruang kosong. Biasanya gejala ini berkelebat bersama dengan kemampuan dan energi seseorang yang sangat kuat disertai emosi psikologis yang tampaknya tak pernah merasa selesai hanya dengan “sedikit gerakan”. Pada diri seniman, energi ini tentu saja akan dikontrol dan dimanifestasi menjadi sebuah aktivitas kreatif. Di sinilah gejala yang sedemikian rupa menjadi menarik. Sejauh mana energi mereka terkuak dan beraksi ketika menghadapi ruang. Inilah ikhtiar awal yang melatarbelakangi pameran ini.
Hal kedua yang juga menarik adalah terkait dengan perbedaan diantara mereka. Dengan merangkai tekstur yang dikelola dengan menghadirkan garis-garis (baik yang ruwet maupun yang formal dan terlacak), gejala pembiasan objek menjadi sangat terasa. Objek-objek mesti tidak semuanya dihasilkan dengan menghadirkan tekstur garis tersebut, ternyata menghasilkan gejala lain yang saya sebut sebagai “teritorial tekstur”. Dengan kata lain bahwa setiap perupa ternyata menghasilkan objek-objek dalam karyanya tidak semata-mata memakai senjata tekturnya untuk mencipta objek. Hal inilah yang memunculkan identitas visual secara individu. Tekstur-tekstur yang semula, secara alami, memiliki standar “kelahiran & kemampuan” yang sama, kini beralih wajah, menjadi sebuah tampilan yang memberikan kesan berbeda-beda. Objek bisa tampak lebih dramatis dari sebelumnya, atau objek lebih terasa “ringan” karenanya.
Karya-karya Edi Sunaryo, Anggar Prasetyo, Aan Gunawan, Iswandi, Toni Jafar, Erizal AS, Feri Eka Candra, Riduan, Kadek Yudi Astawan, Made Wirata dan Made Ngurah Sadnyana, Widi Kertya Semadi adalah contoh atas kemampuan tekstur semu dalam lukisan.

Sub-kurasi 3: “Pseudo-Texture”
Sub kurasi ini mengetengahkan sebuah realitas yang makin menajamkan perbedaan dalam proses berkarya, terutama dalam melihat tekstur. Kajian tekstur selama ini hanya dibahas dari perspektif teknis maupun medium yang dipakai. Jika hanya melihat pendekatan karya formal semacam ini, kita akan terbatas hanya melihat sisi yang selama ini telah banyak dibahas. Dari kajian teknis dan medium semacam ini lahirlah dua jenis penamaan tekstur: tekstur semu dan tekstur nyata. Secara khusus, dalam pameran ini tekstur semu masuk wilayah subkurasi ‘Teritorrial Texture’, sedangkan tekstur nyata masuk dalam subkurasi ‘Touching the Nature’.
Namun bila dilacak secara konseptual historis, kini telah terjadi pemecahan dan perubahan dalam mengkaji masalah tekstur. Jika semula banyak pelukis yang memakai tekstur hanya sebagai teknik, kini beberapa seniman melihat tekstur sebagai objek menggambar (melukis). Mereka tidak memperdulikan persoalan dua tektur yang selama ini ada. Bisa dibilang bahwa mereka kini menggambar tekstur sebagai ide.
Munculnya respon perupa yang mencoba menelaah kembali isu sejarah seni rupa modern mungkin menjadi salah satu pemicu. Sebagai contoh saja, perupa Muji Harjo menggambar ‘lukisan tekstur Affandi’. Di sini perupa dengan sengaja menampilkan tekstur-tekstur Affandi secara realistik dalam karyanya. Inilah realitas “Tekstur Palsu” yang terjadi dalam seni rupa kontemporer kita. Gejala semacam ini ditengarai oleh kemampuan teknik melukis realis masing-masing personal. Maka tak salah seandainya, kemunculan tekstur palsu menjadi peluang baru dalam wacana formal. Sub-kurasi ini lebih kurang akan mencoba mengemukakan pemikiran bahwa ‘Tekstur Palsu’ biasanya menampilkan 2 ide:
1. Menggambar tekstur atau permukaan benda.
2. Merespons atau mengekplorasi karya perupa.
Karya-karya perupa Choirudin yang mengusung visual buih sabun (meskipun disisi lain lukisan Choirudin juga termasuk dalam subkurasi Territorial Texture), atau karya Suibertus Sarwoko yang menggambar dedaunan dengan amat sangat detail adalah ungkapan jitu dalam mengindera kembali wacana tekstur daun di atas kanvas. Disamping itu masih ada pula karya Muji Harjo yang secara gemilang dan bersih menggumuli batu-batu dengan akurasi teknik yang tinggi adalah contoh keberhasilan perupa dalam melukis tekstur. Dengan teknik yang lain, Julnaidi Ms menggulirkan kemampuannya dalam menciptakan ilusi dengan membuat koin seratus rupiah besar denga teknik realistiknya. Sedangkan Rinaldi diundang karena kemampuannya mengolah detail permukaan tekstur sabut kelapa dalam kanvasnya. Secara khusus karya Ida Bagus Komang Sindu Putra juga menarik perhatian karena dengan keterampilannya mampu memindahkan kesan kertas pada kanvas. Catatan khusus untuk karya Kadek Agus Ardika, ia semula menggubah tekstur-tekstur secara khusus, tidak sama dengan susunan nilai raba es krimnya sebenar-benarnya. Namun pada akhirnya ia menemukan cara untuk menggambarkan susunan tekstur visualisasi coklat es krim dengan metoda tersendiri.
Dari 2 hal ini kemungkinan yang dapat diisyarakatkan adalah bahwa lukisan tersebut kemungkinan besar bersifat realistik. Karena bagaimanapun juga, kemampuan untuk memindahkan permukaan atau tekstur benda ke dalam seni lukis yang bersifat ilusif hanya bisa dilakukan dengan teknik melukis secara realis. Dalam kacamata ilmiah, teknik semacam ini dinamakan trompe l’oeil yaitu suatu strategi teknis yang ditempuh dengan maksud agar lukisan yang dibuat dapat memanipulasi pandangan pengamatnya, sehingga yang sebenarnya dua dimensi, akan nampak bervolume/tiga dimensi/meruang/testural. Salah satu yang kerap memakai teknik ini seperti pada lukisan gedung dan interior zaman Barok, dan seperti yang dilakukan oleh Raffael dalam karyanya The School of Athens. Aliran yang banyak memanfaatkan strategi ini adalah Ilusionisme.

Secara singkat tiga hal besar inilah yang akan menjadi dasar “pengikat” dalam kuratorial ini. Bicara perihal tekstur memang tidak sekadar bicara masalah teknik. Tekstur membuka pembicaraan wacana lain; dari medium yang sebelumnya murah dan lumrah, lantas dalam lukisan menjadi mahal; bisa pula dari tekstur juga membicarakan isu lokalitas, iklim, dan wacana kreativitas perupa itu sendiri. Juga jangan lupa bahwa medan seni lukis dewasa ini tidak hanya menyangkut kanvas, cat minyak dan akrilik. Boom seni saat ini seperti kembali menjebak, menjadikan ungkapan Sanento Yuliman bergaung kembali bahwa akrilik dan cat minyak menjadi medium “bangsawan”, sedang medium lain tersepak ke sisi dan nyaris lenyap. Kertas, cat air, arang, pastel dan lainnya menjadi medium “sudra” oleh pembutuh lukisan.
Di Indonesia, selain peserta pameran ini, hampir seluruh perupa yang kini eksis pernah mengalami masa ekserimentasi media (khususnya intensif dalam bertekstur nyata). Dengan melihat realitas di atas, di tengah gempita seni rupa Indonesia yang mulai merangkak di ranah internasional, serpihan fenomena semacam ini saya kira layak diangkat dan diingat. Minimal untuk memahami bahwa proses kreatif pada tingkat awal masih tetap dibutuhkan, sebelum bicara hal-hal yang lebih canggih. +++

Agenda Jogja Gallery