Visit Jogja Gallery
Jl. Pekapalan 7, Alun-Alun Utara
Yogyakarta - Indonesia
Telp. +62-274 419999, 412021, 7161188
Fax. +62 274 412023
Email: jogjagallery@yahoo.co.id
Ragam Semar Sujiwo
Oleh Mikke Susanto
Sujiwo Tejo merasa sangat tertarik pada Semar sejak 1994. Saat itu pertama kali ia menggubah lakon wayang kulit sendiri, “Semar Mesem”, dan pertama dipentaskan di Bentara Budaya Jakarta sebelum akhirnya dikelilingkan di beberapa kota seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, Sala dan Surabaya. Studionya juga diberi nama Semar Mesem. Sampai-sampai mobilnya pun memakai simbol Semar Mesem.
Alasannya sangat personal dan sederhana. Ketertarikanya didahului oleh sebuah pertanyaan, “Mengapa Semar oleh banyak dalang, kerap digambarkan membela Pandawa?” Pertanyaan ini menimbulkan pengaruh besar terhadap posisi Semar di matanya. Setelah melakukan pembacaan dengan saksama kembali, ia merasa bahwa ada yang harus di-’luruskan’. Ternyata bahwa Semar bukan membela Pandawa, tetapi lebih pada membela Kebenaran. Padahal kebenaran ada di mana pun. Setiap orang punya potensi kebenaran. Ya di Pandawa, ya di Kurawa. Ya di Ramawijaya ya di Rahwana. Lakon wayang “Semar Mesem” misalnya bercerita tentang Semar yang mengabdi pada Pandawa sekaligus Kurawa. Yah, Semar membela dan mengabdi pada Kebenaran. Oleh sebab itu pada waktu setelahnya, si ‘dalang edan’ ini pun melakukan perombakan pada lakon-lakonnya untuk menunjukkan konsepsi tersebut.
Kabut misteri mengenai Semar sampai saat ini pun juga menjadi perhatiannya. Dari konsep eksistensi sampai wujud fisik sosok ‘wayang gemuk’ ini sering memunculkan banyak tafsir & pemikiran. Ketika saya menanyakan apakah mas Jiwo (saya memanggilnya demikian) tahu, siapa yang menciptakan sosok Ki Lurah Semar ini? Ia hanya menggeleng. “Tidak ada referensi yang menunjukkan secara faktual siapa yang pertama kali membuat, menggambar atau menciptakan tokoh dan sosok asli dari wayang Indonesia ini,” katanya.
Tentang Semar
Semar adalah sosok yang khas. Secara fisik ia sangat berbeda dengan tokoh lainnya. Meskipun demikian dalam falsafah Jawa, Semar menduduki tempat terhormat. Ia seperti wadah bagi “dunia antara”. Semar bukan lelaki, bukan pula perempuan, dan bukan pula banci. Posisinya tidak berdiri dan tidak duduk. Semar melambangkan Kebenaran yang hakiki dan dengan demikian ia adalah jaminan kemenangan serta keselamatan. Kata-kata Semar dianggap sebagai suara rakyat kecil, suara hati nurani yang paling azasi. Secara semantik kata ‘Semar’ berasal dari kata ‘Samar’, yang berarti tak tampak jelas. Maka secara umum banyak pengamat yang menyimpulkan bahwa Semar adalah sosok yang tidak terpersonifikasikan.
Dalam banyak kisah, ia digambarkan sebagai sosok yang penyabar. Namun jika sedang marah tidak seorang pun yang berani melawan, bahkan dewa pun takut. Ketegasan (atau kemarahan) Semar ini oleh Jiwo dianggap sebagai gestur yang paling berwibawa dan paling berjiwa. Jiwo menggambarkan kewibawaan tersebut dengan meletakkan tangan Semar mengacung tepat di atas kepalanya. Menurut saya, posisi ini secara matematis merupakan posisi yag membentuk garis lurus, dari tangan hingga kaki belakang menjadi satu.
Sebuah garis diagonal tercipta dari sana, garis tersebut menopang bentuk dasar sosok Semar yang secara goemetris adalah berbentuk segitiga. Sangat rasional untuk menggambarkan sebuah simbol kemarahan dengan membuat satu garis lurus dan tegang (lihat ilustrasi). “Posisi semacam ini sungguh membuatku merasa bahwa Semar adalah sosok yang tak terbantahkan,” ungkap Jiwo.
Berdasarkan beberapa kitab, kelahiran Semar digambarkan bahwa konon ada benda di angkasa yang berasal dari gas (ada pula yang menulis cahaya) berputar kuat sehingga membentuk kepadatan tertentu. Karena sejatinya sesuatu dimulai dengan munculnya bibit, benda tersebut disinyalir seperti halnya telur. Ketika telur tersebut berputar sangat kencang dan tidak kuat menopang putaran tersebut, maka telur tersebut pecah. Hal ini hampir paralel dengan teori pembentukan alam Big Bang. Dalam cerita tersebut diceritakan bahwa kulit telur menjadi Togog atau Sang Hyang Antaga, cairan putihnya menjadi Semar atau Sang Hyang Ismaya dan kuningnya menjadi Betara Guru atau Sang Hyang Manikmaya.
Ketertarikan atas konsep eksistensi Semar tidak saja berasal dari apa yang dikaitkan dalam kitab di atas saja. Ada pula yang menulis seperti dalam Pakem Pedalangan Lampahan Wayang Purwo karya S. Probohardjono misalnya. Ketika dunia sudah tercipta Hyang Mahakwasa menciptakan empat sosok makhluk yang berujud manusia dari materi yang berbeda. Yang berasal dari cahaya menjadi Sang Hyang Narada, yang berasal dari teja menjadi Sang Hyang Antaga, yang berasal dari manik menjadi Sang Hyang Guru, sedang yang berasal dari maya menjadi Sang Hyang Ismaya. Mereka dicipta tidak berbapak-ibu.
Alkisah, Batara Ismaya lalu diperintah oleh ayahnya untuk turun ke bumi bertindak sebagai pamong bagi manusia agar berbudi baik. Sebagai pamong, Ismaya lalu menggunakan nama Semar, Smarasanta, Janabadra dan Badranaya (2 nama terakhir ini sering dipakai dalam wayang Bali). Inilah alasannya mengapa Semar dianggap titisan Sang Hyang Ismaya.
Sebagai dewa, Semar mendapat sepuluh anak yang dilahirkan dari pasangannya Dewi Kanastren diantaranya: Sang Hyang Bongkokan, Sang Hyang Siwah, Batara Kuwera, Batara Candra, Batara Mahyati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Kamajaya, Batara Temboro, dan Dewi Darmastuti.
Sedangkan sebagai Punakawan dalam pengembang pamong di mayapada (bumi), ia memiliki 3 anak angkat: Bagong yang diangkat dari bayangannya sendiri, serta Petruk dan Gareng. Sujiwo Tejo sendiri dalam konteks ini agaknya lebih suka memakai istilah “Panakawan”, bukan “Punakawan”. “Punakawan” itu salah kaprah, termasuk kesalahkaprahan para dalang. Karena baginya “Punakawan” itu tak ada artinya. “Panakawan” sendiri dari bahasa Jawa “Pana” artinya ’terang’ atau ’jelas’ atau ’paham’, sedangkan “Kawan” berarti ’konco’ atau ’teman’. Jadi ”Panakawan” adalah teman yang menerangi atau kasih pemahaman.
Sedang dalam wayang gaya Cirebon anak-anak Semar ada 8 orang: Udawala (Petruk), Gareng, Bagong, Bitarota, Ceblok, Cungkring, Bagalbuntung, Curis. Hal ini dikaitkan dengan mitologi bahwa 9 punakawan gaya Cirebon (Semar dan anak-anaknya) merupakan penjelmaan konsep Wali Songo dalam penyebaran agama Islam di Jawa.
Dalam dunia wayang versi Jawa, Semar banyak mendapat peran. Kisah mengenai Semar memang telah dikembangkan secara terus-menerus oleh ahli seni cerita sejak zaman dulu. Kalau Semar sebagai bukan tokoh sentral di setiap lakon wayang kulit pasti ada. Namun secara khusus jika menyebut Semar sebagai tokoh utama di dalamnya ada Semar Papa, Semar Gugat (Semar Minta Bagus), Semar Mbarang Jantur, Semar Kuning, Semar Kembar Papat, Semar Kuncung, Semar Mbangun Kahyangan. Juga di penghujung kepemimpinan Presiden Soeharto, mungkin karena Soeharto ingin kembali punya pegangan kawula alit, para dalang dikumpulkan di Istana Merdeka, terus mereka membikin lakon Semar Mbabar Jati Diri yang dipentaskan di 50 kota. Kini, seorang pelukis (bukan berperan sebagai dalang) Sujiwo Tejo menabuh kisah baru bertajuk Semar Nggambar Semar.
Semar Nggambar Semar
Sebagai seniman lukis, ia tergolong baru. Dulu (saat masih bekerja di harian Kompas) Jiwo merasa bahwa seorang pelukis adalah individu yang kering dan sangat statis. Jiwo membandingkannya dengan dunia seni wayang dan seni pertunjukan lainnya yang digelutinya, cenderung dinamis dan penuh pergolakan pemikiran antar person yang terkait di dalamnya. Oleh sebab itu ia terkadang tak bergairah ketemu atau pada saat ditugaskan meliput seorang pelukis.
Namun kenyataan ini berbalik. Sejak tahun 2005 ia mulai membuat sketsa dan melukis di atas kanvas, sembari tetap berkreasi sebagai seniman pertunjukan: seni dalang, teater, film, animasi, musik dan sastra. Semasa ini ia mencoba beragam teknik dan gaya, termasuk membuat seni potret. Sampai saat ini pun ia telah banyak menghasilkan potret diri orang-orang maupun pejabat terkenal di negeri ini.
Namun sejak Agustus 2007 ketertarikannya pada sosok Semar dimantapkan kembali dalam lukisan, karena seorang sahabatnya, Sugeng Yeah, penata artistik dari STSI Surakarta, menyarakannya menggambar Semar saja dan hitam putih. Sejak itu pulalah ia merasa bahwa seni lukis menjadi teman akrabnya. Ia juga merasakan bahwa salah satu keunggulan seni lukis adalah sebagai media yang sangat menerima respek individual sekaligus dinamis. Pendek kata, Jiwo kini merasa bahwa seni lukis bukanlah lahan kering dan statis. Buktinya, hampir setiap malam ia melakukan ‘tapa kreatif’ dengan mengores warna di atas kanvas.
Pameran Semar Nggambar Semar adalah kelanjutan dari proyek pameran tunggalnya di Jakarta (bertajuk Hitam Putih Semar Mesem, 2007) dan Surabaya (bertajuk Super Semar Mesem, 2008). Diambilnya Semar sebagai tokoh memang tak lepas dari pergumulannya dengan wayang sejak kecil. Dalam pameran-pameran tunggalnya tersebut, terutama pada Semar Nggambar Semar kali ini, Jiwo ingin meletakkan dasar bahwa Semar bukanlah semata-mata ‘kata benda’ berupa manusia atau sosok dengan kejelasan rupa.
Dalam pameran ini ia juga meletakkan persepsi Semar juga sebagai ‘sesuatu yang lain’, bisa jadi Semar adalah sebuah sistem (lihat karya Pangeling-eling Semar to Pamong Nagari & Galaksi Semar Sakti), pola maupun kode-kode alam (Semar Global Warming, Semar Moksa, Semar Gulungan) sekaligus mungkin sebagai sebuah tafsir bebas tak ternamakan. Esensi bahwa Semar adalah sosok yang tak-terpersonifikasikan dan sesuatu yang “samar” adalah konsep utama dalam pameran-pamerannya. Oleh sebab itu, selain gambar-gambarnya berujud sosok Semar yang jelas, maka muncul juga karya yang tak tergambarkan sebagai sosok.
Dalam konteks yang lain, kontinuitas kreatif dalam berkesenian membuatnya ia merasa dekat dengan sosok Semar. Intensi yang sedemikian dekat, luruh dalam segala aspek, dan bergejolak bersama menjadikan Semar adalah dirinya dan dirinya adalah penampakan Semar. Pengenalan dan penjiwaannya atas tokoh Semar menginspirasi hidupnya. “Semar itu seakan berada di beragam dimensi, ia bisa sembahyang di segala waktu dan ruang,” tutur Jiwo. Inilah yang menyebabkan Jiwo ingin juga mempertautkan pola dan peran baru bagi dirinya sendiri, sosoknya berdiri sebagai Semar.
Maka lahirlah sejumlah karya dalam pameran ini yang berhasil mengarungi jiwa Semar, sang guru Ramawijaya dan para Pandawa.
Tanda tangan yang Khas
Bukan Sujiwo Tejo jika tidak membuat ke-‘edan’-an. Salah satu bentuk yang khas--jika tidak disebut ‘edan’--darinya dalam karya lukisannya adalah cara membubuhkan tanda tangan. Tanda tangan dalam setiap lukisannya nyaris berbeda satu sama lain. Pergolakan kreatifnya yang kuat agaknya tidak bisa menyatukan tangan dan visinya tentang makna ketunggalan visual sebuah tanda tangan.
“Tanda tangan saya adalah bagian yang sah dari komposisi lukisan,” demikian katanya. Maka terwujudlah sejumlah bentuk tanda tangan yang dibuat sebagai bagian lukisan itu sendiri. Konsep ini sendiri dalam seni rupa jarang dipakai, karena biasanya setiap pelukis memisahkan peran tanda tangan sebagai identitas dan sebagai lukisan (berdiri sendiri tidak sebagai komposisi yang absolut). Maka muncullah tanda tangan mulai dari yang bergaya paling sederhana sampai yang hampir tak bisa dibaca. Dari yang hitam putih hingga yang full colour, dari yang naif sampai glamor.
Sejauh ini memang tidak ada aturan yang mengikat atas laku kreatif perupa dalam membuat tanda tangan. Namun perubahan atau pun inkonsistensi dalam membuat tanda tangan memang menyimpan masalah dan alasan dalam lukisan. Pelukis Widayat juga melakukan perubahan tanda tangan pada periode tertentu. Hal ini dilakukan karena alasan perubahan pola hidupnya, dari sebelum atau sesudah haji. Namun untuk kasus Jiwo, perubahan tanda tangannya lebih didasari oleh penjiwaannya atas komposisi warna, teknik dan konsep ide yang dilukiskan pada setiap lukisan. Hampir disetiap lukisan, tanda tangan yang dibuatnya memiliki cerita tersendiri yang dapat dikaitkan dengan persoalan teknik maupun ide.
Inilah sejumlah daya tarik karya-karya lukis Sujiwo Tejo. Selain sosok Sujiwo yang penuh ide, ada juga Semar yang misterius, warna hitam putihnya yang mistik, juga dimensi warna yang cukup mendalam menyebabkan pameran ini memiliki ragam pemikiran yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Dari kacamata politis, banyak orang yang mengatakan bahwa bangsa ini sedang menunggu sosok pemimpin yang berhasil mengantarkan bangsanya untuk sejahtera, sosok Semar juga ditunggu oleh sebagian orang sebagai pamong atas bangsa yang sedang kelelahan ini.
Maka sambil menunggu Semar datang, nikmatilah gambar-gambarnya terlebih dahulu. +++
SEMAR NGGAMBAR SEMAR
Lukisan tidak sekedar peniruan atas objek tertentu. Lukisan tidak hanya merupakan media bagi sang pelukis untuk menuangkan apa yang ditangkap oleh inderanya. Suatu lukisan adalah manifestasi dari pemahaman dan penafsiran sang pelukis. Bahkan, lukisan mampu menyampaikan pesan dan makna tersendiri yang mungkin tidak terpikirkan oleh pembuatnya. Lukisan menjadi subjek yang dapat diapresiasi secara dinamis oleh siapapun yang melihat dan meresapinya. Oleh karena itu, seni lukis menjadi salah satu media yang merepresentasikan dan menandai perkembangan peradaban dunia.
Lukisan Semar yang dipamerkan kali ini tentu merupakan manifestasi pemaknaan sang pelukis, Sujiwo Tejo, terhadap sosok Semar. Apalagi pameran ini mengangkat tema ‘Semar Nggambar Semar’, dapat ditafsirkan bahwa pada saat berkarya, mas Tejo senantiasa berupaya menjadi sosok Semar dari berbagai dimensi. Namun, ketika kita melihat dan mengapresiasi hasilnya, sosok Semar dalam guratan lukisan akan memberikan makna tersendiri bagi kita.
Semar adalah tokoh dalam pewayangan yang unik, mewakili mikrosmos sekaligus makrosmos budaya jawa. Tokoh Semar sangat menonjol, bahkan lebih menonjol dalam di dunia pewayangan Indonesia dibanding dalam cerita wayang babon India. Semar mewakili dunia antara, antara dunia manusia dengan dunia para dewa, antara sifat maskulinisme dan feminisme. Semar melambangkan kebenaran dan kearifan. Kebenaran yang bersifat hakiki dan kearifan sesuai dengan fitrah dan alam kemanusiaan.
Semar yang sebenarnya adalah dewa dengan nama Batara Ismaya, melakoni hidup bersama masyarakat kecil sebagai lurah di desa Karang Tumaritis. Personifikasi tersebut melambangkan bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan harus membawa manfaat nyata bagi umat manusia. Seorang pemimpin dan yang berilmu harus mengabdikan diri dalam kehidupan masyarakat. Namun, seperti halnya Semar yang senantiasa memberikan pemikiran kepada raja Hastina Pura, pemimpin dan ilmuwan harus memiliki pemikiran dan wawasan yang luas.
Dalam sejarah bangsa Indonesia, tokoh Semar pernah digunakan sebagai media transformasi budaya. Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga menggunakannya untuk penyebaran ajaran Islam. Sosok Semar yang selalu muncul pada pertengahan pertunjukan wayang menjadi media komunikasi yang efektif antara dalang dengan para penontonnya. Keberadaan Semar mampu menciptakan komunikasi timbal balik yang efektif guna menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat.
Guratan lukisan sosok Semar yang ditampilkan pada pameran ini tentu mewakili pemaknaan yang berbeda berdasarkan ruang pengetahuan dan medan pengalaman yang dimiliki oleh sang pelukis. Lukisan-lukisan ini mewakili pemahaman kekinian terhadap tokoh Semar, serta dimensi-dimensi kepribadian, moralitas, dan spiritualitas yang menyatu di dalamnya.
Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H
![]()
17 Oct 2008 - 02 Nov 2008
![]()
16 Sep 2008 - 12 Oct 2008
![]()
20 Aug 2008 - 07 Sep 2008
![]()
26 Jul 2008 - 10 Aug 2008
![]()
01 Jul 2008 - 20 Jul 2008
![]()
-
![]()
-
![]()
10 May 2008 - 16 May 2008
![]()
25 Apr 2008 - 08 May 2008
![]()
14 Apr 2008 - 21 Apr 2008