Visit Jogja Gallery
Jl. Pekapalan 7, Alun-Alun Utara
Yogyakarta - Indonesia
Telp. +62-274 419999, 412021, 7161188
Fax. +62 274 412023
Email: jogjagallery@yahoo.co.id
Guru Oemar Bakrie
Tafsir Visual Tentang Dunia Pendidikan Indonesia
Catatan: Suwarno Wisetrotomo
...
Oemar Bakrie... Oemar Bakrie 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
...
Guru Oemar Bakrie, Iwan Fals
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
...
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Sartono
Dunia pendidikan di Indonesia, hingga hari ini setelah 64 tahun sejak Republik Indonesia diproklamirkan kemerdekaannya oleh Soekarno/Hatta, masih diliputi oleh persoalan yang penuh kabut. Persoalan itu antara lain; kurikulum dan sistem pendidikan (Ujian Nasional, standar nilai, Undang-undang Pendidikan/Badan Hukum Pendidikan, yang harus ditinjau kembali secara kritis), kualitas dan kesejahteraan guru (tunjangan, sertifikasi, fasilitas, yang masih dipertanyakan dan harus dievaluasi), fasilitas sekolah (yang pasti tidak merata, dan cenderung pas-pasan), kualitas dan perilaku guru dan siswa (kekerasan oleh guru dan siswa, tawuran, kebocoran soal ujian), dan masih banyak lagi.
Penggalan lirik lagu, yang pertama dari lagu Guru Oemar Bakrie oleh Iwan Fals; sebuah balada tentang seorang guru dan murid yang satiristik, ironis, juga tragis, dan yang kedua dari lagu Pahlawan Tanpa Tanda jasa atau terkenal dengan judul Hymne Guru oleh Sartono; sebuah lirik yang takzim penuh penghormatan pada sang guru. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan/Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan/Engkau patriot pahlawan bangsa/Tanpa tanda jasa demikian lirik selengkapnya dari lagu gubahan Sartono. Sebuah pandangan tentang sosok Guru yang kontras.
Saya kira memang begitulah dunia Guru, dan keadaan pendidikan kita; penuh pengabdian, bagai pelita dalam kegelapan, dengan jasa yang tak ternilai (Iwan Fals juga mengatakan, Oemar Bakrie banyak ciptakan menteri, profesor, dokter, insinyur..... bikin otak seperti Habibie...), namun sekaligus diliputi ironi dan penuh paradoks. Keadaan dunia pendidikan juga masih jauh dari ideal; biaya pendidikan, keterjangkauan peserta dirik, fasilitas, dan lain-lain, seperti yang sebagian sudah disebutkan sebelumnya.
Bahwa pendidikan adalah investasi, tonggak utama untuk membawa sebuah bangsa maju setapak demi setapak dalam dunia ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta berbiaya mahal, tentu menjadi pengetahuan semua orang. Akan tetapi persoalannya adalah, terkait dengan biaya misalnya, bagaimana cara membayarnya, siapa yang sanggup membayar, atau siapa yang membiayai. Bahwa guru harus sejahtera, fasilitas sekolah harus memadai, sistem pendidikan harus baik, benar, dan proporsional, serta murid harus cerdas ilmu, pengetahuan, dan spiritual, adalah merupakan keniscayaan.
Banyak pakar pendidikan sudah berbicara diberbagai forum seminar tentang pandangan-pandangannya dengan berbagai teori dan perspektif. Namun hingga hari ini, kejadian demi kejadian, seperti sudah disebut terdahulu, masih menjadi persoalan yang tampak seperti terus berulang. Itulah mengapa, lagu karya Iwan Fals bertajuk Guru Oemar Bakrie terasa terus terngiang dan monumental. Lirik lagu itu terfokus pada nasib Guru yang setia, penuh komitmen, dan dedikasi, namun tampak ringsek di depan para murid yang bengal dan kacau, apalagi di tengah keadaan hari ini. Tentu saja, lagu itu lebih bersifat penggambaran yang dramatis dan karikatural. Karena sesungguhnya sekarang, fakta di lapangan bisa disaksikan keadaan yang lebih baik dan ideal, baik terkait dengan mutu guru dan siswa, fasilitas sekolah, atau juga kecerdasan. Akan tetapi fakta yang jauh dari ideal juga masih mudah ditemukan; kekerasan guru, murid tawuran, gedung sekolah ambruk, anak-anak putus sekolah, dan lain-lain. Hal demikian ini terjadi, pasti ada yang salah; salah urus, salah asuh, salah kepemimpinan, salah kelola, dan lain-lain – yang harus diungkap dengan sejujur-jujurnya, demi masa depan yang lebih baik.
Guru, Pendidikan, dan Tafsir Visual
Pameran ini dihasratkan sebagai perayaan dan penghormatan – mungkin juga pembacaan kritis – terhadap Guru dan dunia pendidikan pada umumnya. Kalau bicara tentang Guru sebenarnya tak terhindarkan, akan bicara juga tentang murid, tentang kesejahteraan, tentang sistem pendidikan, tentang kurikulum, tentang fasilitas dan lain-lain, sebagai lingkaran yang saling terhubung, serta saling memberikan pengaruh (sebab-akibat). Pendeknya, kehadiran Guru dalam segala keadaannya, dapat dilihat sebagai cerminan, refleksi tentang situasi pendidikan kita hari ini.
Sejumlah peristiwa dalam berbagai skala; misalnya, guru yang nyambi ngojek, guru yang nyambi memberikan les privat, guru yang membocorkan soal dan jawaban Ujian Nasional, murid yang nyontek berjamaah, murid tawuran, gedung sekolah ambruk, dana BOS yang ditilep, guru dan murid berprestasi, sebagai juara, memenangkan lomba-lomba, kebijakan penggunaan buku, dan lain-lain, di samping merupakan cerminan dari carut-marut pengelolaan pendidikan kita, juga dapat dilihat sebagai tanda tentang realitas dunia pendidikan kita. Masing-masing tanda, membawa pesan masing-masing.
Tanda dan pesan inilah yang digunakan oleh para perupa yang terlibat dalam Pameran ini untuk melakukan pembacaan dan pemaknaan, hingga terwujud menjadi karya seni rupa. Para perupa mendapatkan stimulasi dari term of referensi singkat dan dilengkapi dengan dua naskah lirik lagu gubahan Iwan Fals (Guru Oemar Bakrie) dan Sartono (Pahlawan Tanpa Tanda Jasa). Dari sanalah, karya-karya dua dan tiga dimensional ini lahir.
Secara umum, bahkan tampak dominan, bahwa karya-karya dalam pameran ini menunjukkan aroma kemurungan dan mengolah fakta-fakta yang memunculkan rasa pesimis. Tentu saja tafsir visual para perupa ini dapat berarti gugatan, kritik, protes, ironi, atau sekadar memaparkan realitas (dalam bahasa rupa). Karya Alex Luthfi, Brainwashing misalnya, terasa seperti gugatan terhadap guru dan sistem pendidikan. Alex mempertanyakan menggunakan teks yang bertebaran di bidang gambar, seperti Educating or Brainwashing, lalu sosok ‘guru’ yang tengah mengajar (berkepala babi), dan serpihan simbol-simbol bintang, kepala banteng, padi-kapas, dan rantai yang menerpa wajah-wajah siswa dalam kelas itu. Hal yang hampir sama pada karya Dona Prawita Arissuta, Panchakuti (keramik instalasi), duapuluh figur berkepala babi dan anjing duduk seperti dalam kelas, sementara figur perempuan berdiri di depan kelas itu (sang guru berada di tengah para siswa yang demikian hancur?).
Visualisasi yang menohok, dapat dilihat pada karya Iwan Hasto, Monumen Tawuran Pelajar; dua siswa sekolah digambarkan seperti adegan melempar batu, seperti yang sering terlihat pada laporan televisi. Tema yang mirip, diolah dengan bahasa yang tersamar, tetapi tak kalah menghentak, pada karya Sinik, Ing Ngarso Sung Tulodho; sebuah kursi sekolah, tergantung di sana tas sekolah. Perhatikan apa yang muncul dari dalam tas itu; sebuah buku yang terlipat-lipat ujungnya, dan tangkai celurit. Waoow! (siapa yang di depan, dan siapa yang diteladani?) Karya M. Lugas Syllabus, Guru Kencing Berlari Murid Kencing Bunuh Diri; sungguh pembacaan yang muram tentang situasi yang dianggap destruktif. Apakah ini akibat dari praktik-praktik yang stereotipe dan salah, terutama dalam hubungan antara guru dan murid, seperti yang digambarkan Wara Anindyah, Guru Galak, atau karya Khairudin, Pelajaran Pertama; keduanya menghadirkan adegan seorang murid yang tengah dijewer telinganya hingga penyok wajahnya. Inilah pelajaran pertama yang membekas: kekerasan!
Kegamangan melihat dunia pendidikan, juga dihadirkan dengan cara efektif oleh Bunga Jeruk, dalam karya patung Selamat Belajar; seorang perempuan berseragam Sekolah Dasar, berdiri, dengan wajah termangu dan cemas. Khawatir hati saya melihat karya ini, apa yang dicemaskan anak ini? Ada apa dengan dunia pendidikan kita, bahkan di tingkat SD sekalipun? Kecemasan masih berlanjut pada lukisan karya G. Prima Puspitasari, Habis Gelap (Seharusnya) Terbitlah Terang; pesan tentang meragukan harapan?. Mungkin juga. Karena seringkali dalam struktur birokrasi pendidikan, sering terjadi praktik-praktik korupsi, skandal, yang mengatasnamakan demi pendidikan. Karena itu, karya tiga dimensional Eddi Prabandono, Table Scandal menjadi demikian kuat tonjokan pesannya. Mengapa ini terjadi? Mungkin memang banyak oknum pendidik, birokrat pendidikan, yang bermental preman, namun bersembunyi di balik seragam atau simbol-simbol pendidikan. Lihat pesan ini pada karya Dyan Anggraini, Nama Saya Juga Umar Bakri; sosok laki-laki kekar, berkostum kaos, lengan kanannya yang kekar ternyata bertato logo Korpri (Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia), dengan pose atau gestur malu-malu di balik wajahnya yang bertopeng.
Terhadap segala carut marut itu, maka apa sesungguhnya yang diperoleh dari dunia pendidikan kita? Karya Ali Umar, Ijazah yang demikian wantah (verbal) justru menggugah pertanyaan itu. Karya itu berupa reproduksi ijazah sekolahnya dari SD hingga Ijazah Sarjana. Apa artinya ijazah – surat tanda tamat belajar – bagi eksistensi seseorang? Apa hubungan ijazah-ijazah itu dengan hidup dan kehidupan seseorang? Bukankah banyak orang yang memiliki ijazah yang sama, tetapi berbeda kehidupannya? Maka apa yang sesungguhnya paling menentukan dalam hidup seseorang? Karya Ali Umar membuat kita menjadi termangu-mangu, dan merangsang banyak pertanyaan.
Akan tetapi, janganlah hanya melihat sisi-sisi negatif, atau aspek-aspek yang serba pesimistik. Dunia pendidikan, khususnya guru, terus akan memerankan tugas mulianya, apa pun yang terjadi. Karya lukisan Yogi Setiawan, Piwulangan Kang Adiluhung vs Murid Mbeling yang karikatural itu menyampaikan pesan semacam itu; guru yang terus memerankan tugasnya dengan baik, meski di depannya terdapat murid yang kacau (mbeling). Hadi Soesanto juga mengingatkan, bahwa belajar itu penting demi meraih derajat yang tinggi, juga demi ibadah, seperti yang tertuang dalam karya Dhuwur Drajade.
Guru adalah kunci dan berperan sentral dalam dunia pendidikan kita. Guru seharusnya tidak boleh lagi berada dalam situasi batin makan hati yang sering tersudut pada situasi takut bukan kepalang yang harus kalang kabut menghadapi murid-murid yang seperti jagoan. Guru, dalam segala situasinya adalah pelita dalam kegelapan yang harus mampu menjadi embun penyejuk dalam kehausan. Khusna Hardiyanto memonumenkan peran guru ini dengan sangat menyentuh dalam karya tiga dimensional, Open the Darkness; bentuk kunci dari kayu nangka (artocarpus heterophyllus), yang diujungnya bertengger burung hantu (strigidae) berukuran kecil, berwarna putih (dari bahan fiber). Sebuah karya yang menggugah; itulah sosok guru dengan dimensi kemuliaannya, sebagai pembuka kegelapan menuju pencerahan. Dunia pendidikan, dunia sekolah, proses pembelajaran, juga mesti melekat penuh hormat pada sang guru, kunci pembuka dunia, sang pelita dalam kegelapan”.
Karya-karya yang disebut sebagai contoh dalam catatan ini, tentu hanya sebagian karya dari para perupa peserta pameran Guru Oemar Bakrie kali ini. Karya-karya lainnya tak kalah menariknya, sebagai bagian dari upaya membaca dunia pendidikan kita melalui tafsir visual. Segala bentuk kreativitas ini, saya percaya tetap berbasis pada upaya penghormatan dan cinta dengan segenap sikap kritis pada dunia pendidikan dengan segala komponennya. Lebih dari itu, yang lebih penting diperhatikan adalah bagaimana semua pihak peduli dan memiliki agenda aksi untuk dunia pendidikan kita.
Yogyakarta, 2 Mei 2009
Suwarno Wisetrotomo
Konseptor Pameran “Guru Oemar Bakrie”
Artists / Seniman Peserta:
Arie Dyanto, Ariswan Adhitama ak.a Nyameng, AC. Andre Tanama feat. Gloria Grace Tanama, Agus Yulianto, Alex Luthfi R., Ali Umar, Agus Cahaya, Angki Purbandono, Anggar Prasetyo, Bunga Jeruk, Dyan Anggraini, Denny ‘Snod’ Susanto, Dedy Sufriadi, Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisna, Dona Prawita Arrisuta, Eko ‘Kota’ Haryono, Eddi Prabandono, Endang Lestari, Farhan Siki, Gabriella Prima Puspita Sari, Hestu A. Nugroho a.k.a Setu Legi, Hadi Soesanto, Herianto Maidil, Hasto Edi Setiawan a.k.a Iwan Hasto, Ismanto, Khusna Hardiyanto, M. Lugas Syllabus, Mahendra Satria Wibawa a.k.a Pampam, Mufi Mubaroh, M. Khairuddin a.k.a Udin Kuru, Nurkholis, Nasirun, Sinik, Prasetia Fauzani, Rennie ‘Emonk’ Agustine F., Rosid, Riduan, RM. Soni Irawan, Sri Maryanto, Suatmadji, Sutrisno, Saroni, Suharmanto, Wara Anindyah, Wayan Kun Adnyana, Yuvita Dwi Raharti feat. Arwin Hidayat, Yani Halim, Yogi Setiawan
![]()
13 Mar 2010 - 10 Apr 2010
![]()
02 Feb 2010 - 28 Feb 2010
![]()
14 Jan 2010 - 14 Jan 2010
![]()
14 Nov 2009 - 31 Dec 2009
![]()
08 Sep 2009 - 18 Oct 2009
![]()
07 Aug 2009 - 30 Aug 2009
![]()
15 Jul 2009 - 02 Aug 2009
![]()
20 Jun 2009 - 05 Jul 2009
![]()
12 May 2009 - 12 Jun 2009
![]()
12 Apr 2009 - 03 May 2009