Visit Jogja Gallery
Jl. Pekapalan 7, Alun-Alun Utara
Yogyakarta - Indonesia
Telp. +62-274 419999, 412021, 7161188
Fax. +62 274 412023
Email: jogjagallery@yahoo.co.id
MENDEKORASI ZAMAN
Pengantar Kuratorial oleh Mikke Susanto
Pameran ini merupakan debut tunggalnya selama ia berkarir sebagai pelukis. Dalam pameran ini, ia tidak saja ingin mengetengahkan wacana perihal kain batik dalam seni lukis. Namun, ia juga mewacanakan tentang sekumpulan tanda atau abstraksi tentang kehidupan. Dengan teknik yang sangat kuat dan visualisasi yang sangat detail, 30 lebih karya yang tersaji ini berupaya menggambarkan berbagai pengolahan/pemikiran tentang gejala sosial yang terjadi saat ini di masyarakat.
Terdapat dua hal besar menyangkut karya-karyanya dalam pameran ini. Pertama, perihal ‘kegilaan’-nya pada unsur-unsur formal seni rupa sebagai bagian dari tujuan mendokumentasi batik. Kedua, mengolah peran manusia sebagai bagian dalam memaknai zaman. Jadi bila disimpulkan, Anang tengah mendedikasikan hidupnya untuk memaknai kehidupan yang tengah bergerak, dengan cara mendokumentasi hasil budaya komunitasnya. Singkat kata, kanvas-kanvasnya memperlihatkan ia tengah “mendekorasi” zaman.
Sub-kurasi I: KORPRI & “Kegilaan” pada Elemen Formal
Batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa, terjadi setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan saat itu semuanya adalah batik tulis. Awal abad ke-20 batik cap mulai dikenal. Tepatnya, batik berkembang pesat setelah usai Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.
Awalnya batik ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam perkembangannya, batik--yang merupakan lukisan dengan menggunakan bahan malam/lilin dan bahan-bahan warna dari alam--mengalami perubahan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman, lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber, dan sebagainya.
Seni lukis batik berisi kekayaan artistik yang berasal dari berbagai kebudayaan. Batik adalah seni lukis dekoratif yang kaya nilai-nilai filosofis tentang kehidupan dari berbagai tempat dimana ia dikembangkan. Jawa misalnya, adalah sebuah kawasan yang menjadi ruang percampuran beraneka ragam budaya. Jawa adalah sintesis dari kebudayaan India dan Cina melalui jalan religi. Oleh karenanya ia menyimpan makna dan pola hiasnya merupakan tanda budaya yang khas. Inilah sejumput esensi: batik bukanlah pola hias yang ‘kosong’ tak bermakna.
Karya-karya Anang yang termasuk dalam subkurasi ini adalah karya-karya yang secara visual hanya melukis pola hias batik. Dengan memakai teknik akuarel, ia melukis dengan sangat detail pola hias yang ada dalam berbagai kain batik yang ia foto dari jarik (kain) koleksi tetangga-tetangganya. Sejumlah 25 karya dengan ukuran yang hampir sama (40x40cm) seperti pada karya seri “Pola Hias” adalah wujud integrasinya terhadap kekayaan yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Sedang pada karya bertajuk Parangrusak (2009), ia menawarkan keahliannya yang sangat kuat dan akurat itu untuk memperlihatkan kemampuan teknik sekaligus sebagai upaya pencatatan atas keberadaan batik tulis bermotif Parangrusak. Bisa dikatakan bahwa lukisan seri “Pola Hias” dan Parangrusak ini adalah wujud “kegilaaan” Anang pada elemen formal berupa garis, warna, komposisi dan de-stilisasi tumbuhan dan binatang yang telah dibuat dalam seni batik.
Lukisan yang merupakan bagian dari “kegilaan” pada elemen formal ini menyimpan asumsi lain. Keberaniannya melukis batik ini juga merupakan bagian dari tugasnya untuk mempertahankan keberadaan pola hias yang saat ini ada dalam batik. Ia sedang mendokumentasi motif batik di tengah gempuran motif-motif yang bersifat universal yang “kosong”. Ia mencoba memindahkan ragam visual, ragam nilai, ragam pesona dan ragam makna pola hias batik dari lembar populis ke dalam seni yang dianggap lebih eksklusif. Dengan cara ini, Anang berupaya mengangkat dan membeberkan eksistensi artistik dan nilai filosofis yang biasanya diolah dalam seni terap (pakaian, tas, asesoris, alat musik, dan lain-lain) ke dalam sebidang lembar yang dinilai lebih murni: lukisan.
Dengan berpindahnya batik sebagai subject matter dalam lukisan, maka batik tidak saja berfungsi sebagai bentuk yang berisi pola hias yang cantik semata, namun juga memiliki khasanah yang lain. Lukisan-lukisan berupa pola hias batik yang dibuatnya tersebut tidak saja berfungsi mendokumentasi garis, warna, komposisi dan motif batik, tetapi secara tidak langsung juga mencatat “sejarah ingatan” pola hias yang terjadi pada setiap motif. Salah satu yang mungkin Anda ingat adalah batik logo Korpri yang didesain oleh Aming Prayitno,* salah satu dosen Anang Asmara di ISI Yogyakarta. Mengingat batik Korpri, saya sendiri seperti mengalami déjà vu ke masa lalu: antara kenyamanan dan keterperangahan pada kasus para guru dan pegawai negeri sipil (PNS) pada saat pemerintah Presiden Soeharto. Tak dinyana pula, batik logo Korpri telah menjadi batik kontemporer paling dikenal dan fenomenal dibanding motif batik lainnya.
Subkurasi II: PEREMPUAN & Pemaknaan Peran
Batik awalnya dikerjakan hanya terbatas dalam kraton. Oleh karena banyak pengikut raja yang tinggal di luar kraton, maka kesenian batik ini pun dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan di tempat masing-masing. Setelah keluar kraton, maka tersebarlah kebudayaan ini di wilayah yang lebih luas. Dengan demikian tersebar pulalah beragam fenomena dan catatan kehidupan yang nantinya menjadi subjek bagi lukisan-lukisan bagi ayah seorang anak bernama Baron Asmara ini.
Dalam sub-kurasi kedua ini, Anang memperlihatkan penggunaan batik yag dipadu dengan drama, masalah dan fenomena kehidupan sosial. Lukisan-lukisannya menggambarkan figur-figur yang dibalut oleh pakaian batik. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan sebagian kecil adalah berfigur laki-laki. Tak dapat disangkal bahwa Anang menempatkan perempuan sebagai tokoh sentral dalam drama lukisan-lukisannya. Terdapat beberapa alasan mengapa ia melukis perempuan, baik tua dan muda.
Alasan pertama adalah bahwa ia ingin menjunjung peran ibu. Secara khusus memang tidak ada cerita tentang ibu kandung dalam lukisan-lukisannya sampai saat pameran ini digelar. Ibu dalam konteks ini lebih bersifat umum. Sosok ibu yang digambarkan lebih berorientasi pada peran yang terkait dengan rumah tangga dan pengorbanan yang diberikan pada anak-anaknya. Dengan peran yang sedemikian berat, Anang ingin mengingatkan pada kita dan secara meyakinkan hendak memberi posisi yang tinggi terhadap ibu.
Alasan kedua adalah ia ingin menempatkan perempuan ke dalam posisi yang lebih baik dan seimbang. Berbagai cerita tentang perempuan di lingkungannya menyadarkan Anang terhadap perempuan, terutama sebagai istri. Persoalan ketidakseimbangan posisi yang dialami memberi nilai khusus pada dirinya. Di tengah ia harus memerankan diri sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya, ia masih dibebani dengan pekerjaan yang terkadang melebihi kekuatan fisik maupun pikirannya. Anang juga sering menemukan dominasi suami terhadap istri menyebabkan posisi tawar mereka sangat kecil, menderita dan sekaligus korban terhadap dominasi tersebut.
Alasan ketiga adalah tentang ketokohan Kartini. Ia merasa bahwa perjuangan Kartini pada masa itu diyakininya cukup berat. Dengan demikian lukisan-lukisan yang menggambarkan perempuan berbalut pakaian Jawa adalah sebentuk penghormatannya pada perempuan pahlawan dari Rembang, Jawa Tengah tersebut.
Alasan keempat lebih mengarah pada keagungan sikap para perempuan memberi nilai penting pada diri Anang. Seringkali ia melihat bahwa keagungan ini ditandai dengan pengorbanan seorang ibu atau istri terhadap keluarga. Juga pada perempuan yang kebanyakan pandai menyimpan persoalan dan masalah hidup yang dialaminya, tanpa orang lain harus tahu. Drama kehidupan dan sikap perempuan yang beraneka macam ini agaknya banyak memberikan sumbangan menarik pada pikiran-pikiran Anang selama ini.
Perlu diketahui, bahwa Anang tinggal di sebuah desa yang terletak cukup jauh dari kota Yogyakarta. Ia tinggal di desa Turi, Kabupaten Sleman, kira-kira 20 km ke utara berbatasan dengan Kota Muntilan, Kabupaten Magelang. Turi adalah sebuah desa penghasil buah salak pondoh yang terkenal. Oleh karena itu tempat tinggalnya dianggap sebagai salah satu kawasan agrowisata penting di Yogyakarta. Meskipun demikian, kawasan ini tetap berkesan sebagai desa yang berkultur agraris. Dalam keseharian, Anang mengaku bahwa ia masih menjumpai perempuan-perempuan--yang juga tetangga-tetangganya itu--masih dalam belitan masalah dan kesulitan ekonomi. Sehingga Anang kerap menemui kasus-kasus yang dapat menjadi inspirasi bagi dirinya tentang sosok perempuan dari kampungnya tersebut, selain didaat dar berita di media massa.
Secara teknis Anang mendapat objek-objeknya dari memotret. Ia memotret kehidupan sehari-hari salah satunya dengan pergi ke pasar tradisional maupun di kampung sekitar tempat tinggalnya. Meskipun objeknya adalah hasil memotret, namun sosok-sosok yang ada dalam karya-karyanya kemudian menjadi fiksi. Ia mengolah ulang figur dalam kanvasnya. Anang tidak saja mengolah wajah, kulit atau tubuh secara umum, tetapi ia juga mengolah peran dalam karya lukisnya tersebut.
Kebanyakan karya-karyanya hanya menampilkan 2-4 orang saja dalam setiap kanvas. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar tercipta konsentrasi dramatik dalam kanvasnya. Dalam subkurasi PEREMPUAN, terbagi beberapa tema khusus, yaitu tema yang memperlihatkan perempuan dalam menghadapi beban kehidupan seperti pada karya The Ballad's of Strong Women I; A Spirit for Struggle of Life; Polygamy; Haruskah selalu terkurung dalam dunia yang itu-itu saja?; Hidup adalah Perjuangan; Semangat Tak Pernah Padam. Ada pula masalah perempuan yang terkait dengan budaya seperti pada karya The Figures of People Who Love Their Own Culture; Javanese Dancer II; Menjaga Tradisi; Sisa-sisa Feodalisme. Juga perempuan dalam kehidupan sehari-hari yang tampak demikian eksotik seperti pada karya Areronce Sinambi Jejagongan; Dialog. Selain itu ada pula yang mengambarkan potret perempuan tunggal dengan balutan batik yang khas seperti Figur Wanita Jawa; Kembang Desa I; Kembang Desa II.
Dalam subkurasi ini terdapat lukisan-lukisan “pengecualian”. Meskipun bukan berobjek perempuan, namun karya-karya ini masih tergolong dalam sub-kurasi mengenai pemaknaan peran. Walaupun hanya sedikit, karya-karya ini penting sebagi tanda bahwa Anang masih mencatat fenomena dan potret laki-laki dengan aktivitas budaya. Seperti pada karya Amemetri Budoyo Adi; Manunggaling Kawulo Gusti; The figure of a hard worker man; dan The Symphony of Soul's Rhythm. Artinya persoalan dalam karya ini tidak diletakkan siapa yang digambar, akan tetapi lebih mengetengahkan isu kebudayaan yang lebih besar: kraton dan kepercayaan religi di tanah Jawa.
Secara umum sub-kurasi kedua ini menyuguhkan komposisi dan visualisasi yang direpresentasikan secara naratif. Sosok perempuan maupun laki-laki menjadi media untuk menyampaikan persoalan sosial sekaligus sebagai bentuk kekaguman Anang terhadap batik. Jika memperhatikan lukisan-lukisan yang termasuk dalam sub-kurasi kedua ini, kemampuan teknik memindah pola hias juga terlihat sama kuatnya dengan karya-karya pada subkurasi pertama.
Persoalan lain yang cukup menarik perhatian dalam lukisan Anang adalah tidak lengkapnya unsur fisik manusia yang digambar. Pada sebagian besar karya-karya lukisnya ia tak memasukkan kepala. Perlu perhatian khusus tentang persoalan ini. Anang mengaku persoalan ini bukan tak disengaja. Ia merasa bahwa “pemotongan” atau tak digambarnya kepala di sini menyiratkan beberapa alasan.
Ketidakmunculan kepala dikarenakan alasan bahwa kehadiran sosok jauh lebih penting daripada wajah atau kepala. Anang tidak mementingkan persoalan siapa perempuan ini dan seperti apa wajahnya. Ia lebih mementingkan konsepsi bahwa penandaan perempuan dilakukan dengan menyematkan pada tubuh dengan pakaian (sebagai penanda jenis kelamin) dan batik (sebagai bentuk pernyataan kelokalan). Dari sini saja bisa digambarkan siapa mereka sebenarnya?
Alasan lain adalah upaya untuk memberikan gangguan dari pernyataan dan konvesi yang konservatif: sebuah gambar harus ada kepala. Dengan tanpa kehadiran kepala, Anang mengaku dapat menggubah komposisi dinamis yang “irasional”. Dalam konsepsi konvensional, pemotongan kepala dianggap tidak biasa dan tak masuk akal. Namun dalam lukisan-lukisannya, ia berhasil menghadirkan pemotongan-pemotongan tubuh secara artistik dan bermakna.
Sedang alasan yang paling krusial bagi Anang adalah terkait dengan persoalan keyakinan. Inilah jalan tengah atau kompromi atas polemik klasik dalam ajaran Islam mengenai boleh tidaknya menggambar makhluk hidup. Persoalan ini penting bagi Anang, karena ia merasa krisis ketika menghadapi hadist Nabi mengenai hukuman bagi pelukis yang menggambar makhluk hidup. Hadist tersebut oleh banyak ulama ditafsir secara berbeda-beda. Ada yang mengganggap menggambar manusia itu boleh selama tidak diberhalakan. Ada yang tidak membolehkan sama sekali menggambar manusia, artinya pelukis berdosa dan mendapat hukuman berat dari Allah SWT. Ada pula yang membolehkan, tetapi tidak boleh digambar dengan anatomi yang lengkap, terutama kepalanya. Karena unsur kepala-lah yang menjadikan figur tersebut lengkap dan “hidup”. Inilah beberapa alasan Anang mengenai komposisi pemotongan figur.
Dari apa yang telah dilakukannya dalam pameran ini kita dapat di mengakumulasi berbagai tafsir yang menarik. Hadirnya batik dalam lukisan menandai bahwa seni rupa kontemporer Indonesia dewasa ini juga diwarnai dengan tema-tema tentang isu-isu lokal. Selain itu, posisi perupa dalam masyarakat akhirnya tidak bisa hanya dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Posisi Anang menjadi penting karena ia turut membangun kesadaran untuk merespon berbagai fenomena yang sangat mungkin hilang tergilas zaman.
Terakhir, secara artistik, dengan menggunakan keterampilan manualnya, Anang berhasil mengatasi gempuran pemakaian teknologi canggih dalam seni lukis. Ia tetap tekun “membatik” secara langsung dengan tangannya sendiri dalam waktu yang realtif singkat, menariknya justru dengan teknik akuarel yang notabene sekali gores langsung jadi alias tidak boleh salah langkah sedikit pun. Anang adalah modal bagi bangsa ini, seperti halnya para pembatik tradisional yang sangat tekun dalam berkarya dan menghasilkan karya-karya batik monumental. Inilah nilai-nilai penting yang ada pada batik dan dirinya. Mari kita jaga modal-modal penting ini, agar tak diakui sebagai kekayaan oleh bangsa lain. +++
Catatan:
* Sebagai rasa hormat, sejarah logo KORPRI (Korp Pegawai Negeri Republik Indonesia) perlu diketengahkan di sini. Pada tahun 1973, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI melakukan lomba desain logo Korpri. Salah satu anggota jurinya adalah Kusnadi (kritikus seni rupa yang telah almarhum). Ternyata dari lomba ini tidak menghasilkan logo yang menarik dan diinginkan. Sampai dua kali penyelenggaraan tidak pula menemukan desain yang pas. Sampai pada suatu ketika Aming Prayitno ditemui oleh staf Departemen Dalam Negeri RI untuk dimintai membuat desain logo Korpri. Pada waktu itu Mendagri dijabat oleh Amir Mahmud yang juga menjabat sebagai Ketua Korpri Pusat. Rupanya yang dimintai untuk mendesain tidak hanya Aming, tetapi juga perupa Mujitha, Suharto PR. dan seniman lain dari Bandung dan Jakarta. Namun akhirnya desain Aming-lah yang terpilih. Aming mendapat sertifikat penghargaan ber-No. Peng. 02/K.III/wan/73 tertanggal 6 Maret 1973 dan uang sebesar 50 ribu rupiah yang dibebankan kepada Korpri pusat.
Konsep dalam logo Korpri merupakan sekumpulan tanda yang disatukan dalam sebuah desain. Dalam logo tersebut tercantum beberapa simbol: 1) Pohon Hayat atau Kalpataru yang merupakan pohon pelindung dan penyeimbang alam. Dalam pohon tersebut terdapat 17 ranting, 8 cabang, dan 45 daun sebagai asosiasi hari Kemerdekaan RI. 2) Pohon tersebut menaungi sebuah siluet rumah yang memiliki 5 buah tiang yang diasosiasikan sebagai dasar negara Pancasila. 3) Di bawahnya terdapat sayab yang menyiratkan kebebasan. 4) Logo Korpri tersebut berwarna emas (atau kuning) yang menyiratkan sebuah warna yang paling mulia dan tinggi.
Ketika logo ini di-batik-kan dan dipakai sebagai pakaian wajib dalam melaksanakan tugas sehari-hari para PNS, Aming Prayitno (yang juga PNS-Dosen di STSRI “ASRI” Yogyakarta) tidak lagi mendapat peran apapun. Bahkan sebagai desainer logo ia tak mendapatkan pemberitahuan sebelumnya maupun hak kekayaan intelektual atas desainnya. Batik Korpri kemudian sangat dikenal hingga terjadi reformasi tahun 1998. Pamor batik Korpri (desain Aming) yang semula begitu kuat turut menghilang dengan munculnya Orde Reformasi. Banyak sekali kesan yang muncul terhadap eksistensi pegawai negeri yang ditandai pula dengan kehadiran batik Korpri ini, sebelum batik desain Aming ini diganti dengan motif yang dipakai saat ini. (Wawancara kurator dengan Aming Prayitno, Rabu, 27 Mei 2009).

10 Dec 2010 - 30 Dec 2010
![]()
13 Mar 2010 - 10 Apr 2010
![]()
02 Feb 2010 - 28 Feb 2010
![]()
14 Jan 2010 - 14 Jan 2010
![]()
14 Nov 2009 - 31 Dec 2009
![]()
08 Sep 2009 - 18 Oct 2009
![]()
07 Aug 2009 - 30 Aug 2009
![]()
15 Jul 2009 - 02 Aug 2009
![]()
20 Jun 2009 - 05 Jul 2009
![]()
12 May 2009 - 12 Jun 2009