Jogja Gallery

Visit Jogja Gallery
Jl. Pekapalan 7, Alun-Alun Utara
Yogyakarta - Indonesia
Telp. +62-274 419999, 412021, 7161188
Fax. +62 274 412023
Email: jogjagallery@yahoo.co.id

100 Tahun Kebangkitan Nasional

  • Tanggal: -
  • Kurator: Mikke Susanto

Ketika Perupa Menerobos
Polemik Sejarah & Konflik Bangsa


Oleh Mikke Susanto & Sri Margana

Seratus tahun yang lalu bangsa ini mengalami sebuah momentum penting. Sejak Presiden Sukarno menetapkan Budi Utomo sebagai tonggak peringatan Kebangkitan (dulu ‘Kebangunan’) Nasional tahun 1948 bangsa ini memiliki lagi satu hari penting, selain Hari Proklamasi Kemerdekaan. Namun serta merta ide ini juga tidak mudah diterima oleh sebagian anak bangsa, kala itu dan juga mungkin sampai saat ini. Terbukti kemudian polemik muncul. Sebagian besar protes atas dianggapnya Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan bangsa ini. Sebagian lagi protes pada pribadi-pribadi yang dianggap penting dalam sejarah pergerakan tersebut.
Swakwasangka kekuasaan dan isu kepentingan berhembus. Berbagai buku atau penelitian mengenainya pun bermunculan. Pembahasan mengenai detail-detail wacana secara kronologis maupun psikologis menuntut keluar. Sejarah diperdebatkan, konflik lalu lahir dan polemik pun tak mampu dibendung.
Di sisi yang lain, anak-anak muda (baca perupa muda) masa kini yang hidup kian hari menjauh dari itu semua, harus menerima ribuan cerita, di tengah harapan untuk terus memperingatinya. Tidak semua anak bangsa belajar dan tertarik pada sejarah bangsa. Tidak semua perupa misalnya, dengan latar belakang ilmu yang berbeda akan netral dalam beropini. Banyak diantara mereka mengalami keterkejutan dan membuahkan interpretasi baru (jika tidak dikatakan buah ‘kebingungan’ mereka) atas hari bersejarah yang satu ini.
Di tengah kegalauan semacam ini, kami mencoba menawarkan media berupa pameran untuk mengeluarkan berbagai pemikiran, sekaligus sebagai bentuk peringatan mengenai hari bersejarah itu.
Sejak awal kami menerapkan sistem ‘terbuka’ sepenuhnya untuk memilih peserta dalam pameran ini. Hal ini dilakukan karena hari besar ini adalah milik semua anak bangsa. ‘Terbuka’ dalam arti mengajak mereka untuk turut serta dalam proses seleksi. Maka terkumpullah lebih kurang 520 proposal karya yang berasal dari sejumlah kota di Indonesia: Yogyakarta dan sekitarnya, Bandung, Jakarta, Semarang, Denpasar, Makassar, Balikpapan, Padang, Manado, dan lain-lain. Dari 500 karya tersebut akhirnya dipilih oleh juri 67 karya dengan beragam konsep dan jenis media karya: lukis, patung, grafis, fotografi, keramik, seni instalasi, boneka, seni multimedia, dan tekstil.
Sekitar 520 proposal karya yang terkumpul, sangat minim yang mengeksplorasi (atau meriset) kejadian secara khusus dan menvisualkan secara ilustratif perihal kejadian di masa lalu tersebut. Dan dari 67 karya yang terpilih dapat disimpulkan terlihat bahwa upaya untuk melukiskan konflik sejarah dan problem bangsa saat ini begitu lebih mengemuka. Menariknya, dalam situasi seperti sekarang ini, dimana polemik sejarah masih ramai dibicarakan, digerus oleh pendekatan ideologi postmodern, maka banyak karya yang memunculkan tanda-tanda visual yang baru.
Dengan kata lain, dalam pameran ini rasa kebangsaan atau nasionalisme mencoba dipoles dengan objek dan tanda yang lebih segar, dibanding tanda yang biasa dipakai oleh penyelenggara Negara maupun sebagian besar masyarakat umum. Dari karya-karya terpilih, terkuak 3 tema besar yang banyak dikupas oleh para perupa dalam melihat hari Kebangkitan Nasional.

1. Ekplorasi Budaya pembentuk karakter kebangsaan
Dalam konteks ini Kebangkitan Nasional mendapat peran sebagai arena yang memberi semangat pada munculnya pemikiran tentang kebudayaan. Lebih khusus lagi, kebudayaan sebagai benih untuk memunculkan rasa kebangsaan dan optimisme untuk melakukan kebangkitan nasional. Karena pada dasarnya, kualitas dari hasil kebudayaan Indonesia tergolong memiliki dimensi yang beragam, salah satunya untuk menyemangat jiwa nasionalisme anak bangsa. Tak salah bila para tokoh sejarah, termasuk pelopor dan pendiri Budi Utomo, memberikan tempat terhormat bagi kebudayaan dalam visi politiknya.
Bibit Jrabang dalam karya Umbul Dandanggulo misalnya mampu memberi contoh dipakainya tradisi seni gambar lama maupun tembang Jawa mampu mengajarkan pada kita tentang persoalan dan titik lemah bangsa di masa kini. Sarkasme simbolik itu sebenarnya ditujukan terhadap realitas kehidupan masa kolonial, tetapi sebenarnya juga relevan untuk masa sekarang. Apakah artinya sejarah kita tidak pernah bergerak dari kehidupan Kolonial. Pemimpin dan birokrat yang korup dan menghamburkan uang (Tikus Pithi), rakyat yang berontak (Jangkerik Upa), sementara para ulama (Tokek) cuman asyik berzikir. Jangan lupa pula pada karya Robeth Nasrullah, Indonesia Pusaka, yang secara optimis mencoba mengangkat budaya Indonesia sebagai upaya untuk membangkitkan kembali martabat bangsa ini sekaligus mengingatkan bahwa kebangkitan Nasionalisme Indonesia adalah perpaduan dari “pusaka-pusaka” lokal yang telah mengalahkan ketajaman dan kecepatan peluru-peluru kolonialisme.
Karya Endang Lestari, Renungan dalam Rotasi, secara visual juga sangat menarik. Ia mengambil dimensi jiwa bangsa ini dengan mengetengahkan pola hias sebagai jalan masuk menuju persoalan krisis yang harus ditopang masyarakat Indonesia dewasa ini. Di balik rutinitas sehari-hari, banyak yang harus terus direnungkan agar bangsa ini tidak terjebak dalam banyak persoalan yang ditinggal oleh pendahulunya.
Evi Sulistyowati dalam karya Ideoplastis, juga memakai karakter pakaian tradisional budaya Jawa berupa blangkon. Hal ini di dasari bahwa selain para tokoh Budi Utomo adalah sebagian besar orang Jawa, ia juga ingin mengilusikan sikap kritisnya terhadap militer (lihat kain doreng yang dipakainya untuk membuat blangkon). Hal ini paralel dengan karya Abdul Rohim, Gandrung Tarian Perlawanan Orang Using, yang mencoba membangkitkan semangat nasionalisme lewat potret seorang penari Gandrung Banyuwangi.
Berbeda dengan Farhan Adityasmara, dalam karya Negative Series of a Subculture. Ia mencoba melihat sisi lain sub-budaya yang terjadi di masa kini. Sepintas media photo neon box berukuran 8 x 48 x 253 cm ini memang tak ada beda dengan karya neon box sejenisnya, namun dengan mengusung karya ini dikaitkan dengan isu Kebangkitan tak pelak inilah sebuah penghargaan tentang hidupnya sebuah ‘pecahan’ kebudayaan besar yang hidup di saat ini.

2. Polemik Sejarah
Seperti yang telah dibicarakan di depan, bahwa Kebangkitan Nasional telah melahirkan polemik dalam wacana sejarah. Polemik sejarah semacam ini sejatinya bisa memberikan pelajaran antara sebagai sarana pendewasaan diri masyarakatnya atau semakin menguras tenaga mereka untuk tidak peduli pada bangsanya.
Sejauh ini berbagai buku dan penelitian telah lahir dari tangan para ahli dan maestro sastra. Polemik ini lebih kurang berkisah tentang: pertama, ketaksepakatan antar tokoh nasionalis dalam menetapkan antara ada atau tidaknya, perlu atau tak perlunya hari atau peringatan Kebangkitan Nasional. Kedua, ketidaksepakatan antara sikap Pemerintah dan beberapa kelompok masyarakat dalam menetapkan ‘ikon’ Kebangkitan Nasional, dalam hal ini Budi Utomo. Ketiga, ketaksepakatan antar individu yang menjadi saksi atas perjuangan dan kepeloporan para tokoh dalam gerakan Budi Utomo atau ‘pembangkit’ semangat kebangsaan. Dalam hal ini lihat buku Pramudya Ananta Toer yang mengusung nama Tirtoadisuryo sebagai tokoh pergerakan yang penting dibanding Budi Utomo. Keempat, ada pandangan absolut bahwa Budi Utomo memiliki “ketaklengkapan jasmani” sebagai organisasi. Polemik ini divisualisasikan secara menarik oleh perupa Rita Dharani dalam pameran ini.
Karya-karya disamping ini mencoba menorehkan aksentuasi tentang berbagai polemik di atas. Sikap dan opini mereka jika ditelusuri cukup menarik. Bagi kami, hampir pada setiap karya memberi interpretasi dan inspirasi yang multipersepsi. Rasaya tak cukup dilukiskan kembali dengan sejumlah kata pada tataran yang singkat seperti dalam pengantar ini.
Karya Aan Gunawan yang berjudul Kacang Lupa Kulit, adalah upaya untuk mengeja ulang sikap dan perilaku kita terhadap persoalan sejarah. Karya Erianto berjudul For Us yang menyiratkan kebimbangan generasinya saat ini dalam menengahi masalah sejarah dan nasionalisme. Atau karya Dedy Sufriadi, The Story of Broken Text yang secara maksimal dapat mengambil simpul atas polemik ini. Karya Aan, Erianto dan Dedy seperti mengingatkan pesan Sukarno tentang keberadaan sejarah. Namun jika persoalan ini juga tidak kunjung berhenti, mungkin menarik bila melihat karya Deddy PAW berjudul Who Cares atau karya Iqro' Ahmad, Capek deh. Semua seperti dalam perangkap tak berujung. Capek memang …
Sedangkan pada karya Cipto Purnomo, Titik Terang, Iwan Hasto, Aku Di Belakangmu, Sulung Widya Prasastya, Memahami Apa Yang Ada Di Masa Lalu, Mardiyanto, Mencari Kedalaman Teks lebih netral menyikapi persoalan polemik sejarah semacam ini. Mereka mencari sisi yang lebih arif dalam menengahi problem sejarah.
Sedang pada tiga karya lain seperti Rita Dharani, Radikalisme di Persimpangan Jalan, Ruswanto, Antara dr. Sutomo dan Douwes Dekker dan Setyo Priyo Nugroho, Kami Pemberontak Bukan Pengkhianat!, adalah perumpamaan lain tentang penyataan polemik yang tidak berujung itu. Bahkan satu perupa dengan gemas, mencoba memberi tokoh alternatif lain dalam polemik ini, seperti yang dicontohkan Setyo, bahwa Diponegoro-lah cikal bakal pembangkit nasionalisme di Nusantara, karena dalam babad diceritakan bahwa perang Diponegoro tidak saja diikuti oleh orang Jawa, tetapi juga oleh suku-suku lain di Nusantara.
Pada karya lain seperti Dedy Maryadi, Evolusi Buto menarik untuk dicermati, bahwa selain polemik di atas, ia juga menawarkan cara pandang baru terhadap mereka. Tokoh-tokoh Budi Utomo digambarkan bertaring, yang hendak menegaskan bahwa bangkitnya Nasionalisme Indonesia adalah sebuah evolusi yang menakutkan bagi kolonialisme. Seperti raksasa-raksasa yang siap menghisap darah-darah kaum kolonialis yang telah menyengsarakan rakyat Indonesia selama ratusan tahun. Pendidikan masa kolonial bagi elite negeri ini telah melahirkan raksasa-raksasa baru penentang kolonialisme.
Sedang karya Koharelang, Ceremonial, ingin menunjukkan ironi tentang sejarah Kebangitan yang semakin lama terlihat keropos, dan mungkin habis dalam perjalanan. Atau Indonesia kontemporer adalah sebuah kue yang tersayat-sayat, bahkan sebagian darinya telah lenyap entah kemana. Sementara semut-semut liar terus menggerogoti rasa nasionalisme dan rasa kesatuan sebagai bangsa. Dan secara genial dengan menggunakan benda mainan berbentuk tentara Wilman Hermana pada karya Flag of Our Fathers, ingin menunjukkan sikap-sikap militeristik yang kerap dipakai sebagai bagian dalam arena perjuaga para pengagas bangsa ini.

3. Problem & Konflik Bangsa
Bangsa ini telah dicatat oleh sejumlah perupa sebagai bangsa yang penuh problematika dan konflik. Meskipun sejatinya bahwa setiap Negara pasti memiliki problem dan konflik, namun secara khusus problem dan konflik di Indonesia menjadikan bangsa ini kerap dicap sebagai bangsa yang kurang perhatian pada sejarah bangsa maupun kebutuhan serta realitas yang dihadapi rakyatnya. Munculnya masalah di berbagai bidang adalah bukti bahwa bangsa ini belum juga belajar dari sejumlah peristiwa, termasuk dari hari bersejarah seperti Kebangkitan Nasional. Hal-hal semacam inilah yang banyak diungkapkan dalam karya-karya mereka yang terseleksi.
Karya Khusna Hardiyanto berjudul Teruuuussss adalah gambaran yang paling umum yang didapat dari opini publik. Bahwasanya banyak sekali elite selalu berebut lahan dan kekuasaan adalah gambaran yang paling kerap diterima para generasi muda saat ini. Karya ini juga bisa dikatakan bahwa rakyat (yang secara de jure besar kekuasaannya, namun secara de facto tidak demikian adanya) tetap menjadi kelompok yang terkalahkan.
Realitas masalah dan problem bangsa secara berbeda digambarkan oleh sejumlah perupa. Lihat saja karya Wayan Kun Adnyana, Tentang Kursi atau Deni Junaedi, APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) dan Askanadi yang mengolok-olok Garis-garis Besar Haluan Negara yang selama ini menjadi ilusi semata. Sedangkan karya Herianto Maidil, Garudaku Kini dan Wisnu 'Manu' Aji, Oh Indonesia… serta Y. Indra Wahyu, Asasi Per@ Mudah Pecah yang ingin menggambarkan kondisi buruk bangsa ini. Indra Wahyu secara menarik ingin menegaskan bahwa ide dan sikap-sikap nasionalisme individu pun harus hancur karena masalah dan problema bangsa ini. Bangsa ini seperti manusia yang penuh luka dan minim resistensi terhadap masalah.
Sedang karya Abdul Fattah, Generasi Kebangkitan lebih terbaca bahwa generasi masa kini ternyata menjadi generasi yang sedang bingung menerima realitas dan benturan atas berbagai konflik dan problem bangsa ini. Sejalan dengan itu tak salah bila Andy Wahono dalam karya Under Re-reconstruction menggambarkan bahwa bangsa ini masih saja dalam taraf belajar, masih dalam taraf dikonstruksi terus-menerus. Seakan-akan bangsa ini tidak pernah menjadi “sesuatu” secara utuh dan dewasa. Tak jauh dari itu I Made Kenak Dwi mencoba melukiskan dalam karya berjudul Damai dalam Imajinasi, yang seakan-akan kemakmuran dan kedamaian hanyalah cita-cita yang utopis.
Dalam “Operasi Semar” Jaya Adi memparodikan lukisan Rembrandt. Tampak lima mantan presiden RI dalam sebuah operasi sosok “Semar” dalam tokoh pewayangan sebagai wujud dari tubuh pertiwi. Membedah tubuh bukanlah urusan gampang, perlu nyali menghadapi lumuran darah, kesalahan sedikitpun bisa fatal bagi pasien. Dalam urusan tubuh dan darah Suharto ahlinya, Sukarno membisik lirih untuk berhati-hati, Megawati menahan haru, Gus Dur mencoba mencerahkan pandangan, Yudoyono bahkan tak mampu menatap. Barangkali hanya Habibi murid yang paling cerdas dan antusias, matanya terbelalak penuh antusiasme mengikuti ajaran sang guru.
Gambaran yang juga tak kalah menarik terkuak pada karya Ruslan, Tanpa Batas II. Di sini Ruslan seperti membuat simpul terakhir tentang problem dan konflik bangsa yang tiada akhir, tiada batas dan tiada upaya pemecahan yang jelas. Semua, menurut Ruslan dalam gambarnya, seakan-akan semakin mempersulit generasi muda bangsa ini untuk mengarungi hidup. Generasi yang harus meniti jalan panjang dan ringkih.
Jangan-jangan negeri ini memang menjadikan bencana dan kecelakaan sebagai bagian yang paling akrab. Lalu dimana dan dari mana kita akan bangkit? Jawabannya ada pada kemauan dan integeritas Anda sendiri sebagai anak bangsa kami kira. +++

MENYAMBUT SATU ABAD KEBANGKITAN NASIONAL
DIRGAHAYU NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

Di tengah kemelut Negara di segala bidang ini, di bidang politik, ekonomi, pendidikan, bahkan juga disiplin dan semangat rakyatnya untuk maju, Jogja Gallery mengambil inisiatif untuk ikut berpartisipasi dalam memperingati satu abad Kebangkitan Nasional, khususnya di bidang seni dan budaya, dalam bentuk pameran seni rupa yang kami juduli ‘SETELAH 20 MEI’. Maksudnya, dengan pameran ini kami ingin mengajak serta para seniman pencipta dan masyarakat apresiatornya untuk mengenang dan menyadari kembali apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita di dalam mewujudkan apa yang kini kita capai dan nikmati, yaitu kemerdekaan, yang karena sedang terpuruk dirasakan oleh sebahagian dari kita sebagai sesuatu yang tidak nyaman.

Kita sebagai generasi penerus wajib menjaga, meneruskan, dan mengisi kemerdekaan itu di segala bidang, bidang politik, keamanan, ekonomi, pendidikan, dan masih banyak lagi. Di bidang politik terasa bahwa partai-partai politik kita sedang lupa akan tujuannya, di bidang keamanan kita lihat bahwa pulau-pulau dan lautan kita diobok-obok orang-orang asing, di bidang ekonomi kita menyaksikan bahwa Negara penghasil minyak dan pernah berswasembada beras itu kini menjadi pengimpor minyak dan beras yang serius, dan di bidang pendidikan situasi dan kondisi kita makin terpuruk, secara nasional peringkatnya makin menurun, dan ketika didorong prestasinya melalui ujian nasional ternyata malahan menimbulkan banyak kecurangan dalam pelaksanaannya. Para guru mengambil jalan pintas dalam ‘menaikkan mutu’ murid-muridnya dengan membantu memberi jawaban yang benar dalam ujian, tidak dengan memperbaiki system pengajarannya di tahun-tahun sebelum ujian.

Maka kami mencoba membantu memperbaiki keterpurukan ini melalui jalan seni, jalan komunikasi pribadi antara manusia pencipta dengan masyarakat ramai, yaitu manusia-manusia apresiatornya. Dari sisi pencipta, dalam mencari ilham apa yang akan dilukiskan untuk menanggapi tema yang dihadapinya, ia tentunya berusaha menyelami waktu yang seratus tahun ini untuk merekonstruksi kejadian yang kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, betapa terjadinya, bagaimana hakikatnya, dan apa dampaknya bagi perjuangan Indonesia, dan dari sela-sela apa yang diselaminya itu ia akan memperoleh masukan, apa yang selayaknya dilukiskannya. Atau mungkin seseorang hanya mengandalkan persepsi yang telah ada padanya tentang hari itu dan dari padanya berusaha untuk memperoleh apa yang dicarinya. Jalan yang manapun yang diristisnya, ia berkesempatan untuk mengingat dan memahami apa itu Kebangkitan Nasional dan mudah-mudahan dengan ingatan dan pemahamannya itu insya Allah ia akan tergugah semangatnya untuk berbuat sesuatu bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sedang memanggil warganya untuk itu. Begitu pun para penonton dan apresiator pameran, agar mendengar dan menyadari panggilan Ibu Pertiwi.

Bayangkan, dipamerkan bersama ini 67 karya, dari 500 lebih karya yang masuk, dengan hampir sebanyak itu pula ragam variasi ide seniman yang diketemukannya dalam mencari ilham dan menelusuri peristiwa besar tersebut. Tentu ada di antaranya yang mampu membakar semangat juang penonton dan apresiatornya. Dengan demikian maka mudah-mudahan apa yang kami cita-citakan di atas berhasil.

Kepada para seniman peserta pameran dengan ini kami sampaikan penghargaan kami, begitu pun kepada semua fihak yang turut berpartisipasi demi suksesnya Pameran ‘SETELAH 20 MEI’ ini, dan kepada masyarakat ramai kami mengundang untuk menyaksikan pameran tersebut sambil mengenang apa yang terjadi seratus tahun lalu dan beramai-ramai menyingsingkan lengan baju untuk bangkit dari keterpurukan ini. Bismillahi-rahmanirrahim.

Agenda Jogja Gallery